Kurator dan Seniman Asal Kalbar Terlibat dalam Pameran Pulang ke Palung di Denpasar

Dua pelaku seni asal Kalbar yakni kurator Annisa Fitri Yusuf dan seniman Zakaria Pangaribuan terlibat dalam pameran seni rupa

Penulis: Peggy Dania | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
PAMERAN SENI RUPA - Kurator Annisa Fitri Yusuf dan seniman Zakaria Pangaribuan saat terlibat dalam pameran seni rupa bertajuk “Pulang ke Palung” yang digelar di Rumah Tanjung Bungkak (RTB) Denpasar, Bali, pada 25 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Pameran ini merupakan bagian dari program MTN Lab: Residensi Denpasar 2025 yang melibatkan 40 seniman dan kurator muda dari berbagai daerah di Indonesia.
  • Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya dan Gurat Institute.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, DENPASAR - Dua pelaku seni asal Kalbar yakni kurator Annisa Fitri Yusuf dan seniman Zakaria Pangaribuan terlibat dalam pameran seni rupa bertajuk “Pulang ke Palung” yang digelar di Rumah Tanjung Bungkak (RTB) Denpasar, Bali, pada 25 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026.

Pameran ini merupakan bagian dari program MTN Lab: Residensi Denpasar 2025 yang melibatkan 40 seniman dan kurator muda dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya dan Gurat Institute.

Tema “Pulang ke Palung” mengajak publik membaca ulang tradisi sebagai proses hidup yang terus bergerak, dinegosiasikan dan dimaknai ulang dalam konteks kekinian.

Bali dipilih sebagai lokus refleksi di mana tradisi bertemu ruang, tubuh, bunyi, serta relasi manusia dan alam.

Annisa Fitri Yusuf mengatakan pameran ini lahir dari proses belajar kolektif yang intens selama program residensi.

“Melalui MTN Lab, kami mendapatkan ruang untuk memperluas cara pandang dan menguji praktik masing-masing. Tradisi tidak kami tempatkan sebagai sesuatu yang jauh, tetapi hadir dan berproses dalam keseharian seniman serta konteks tempat mereka berpijak,” ujarnya.

Baca juga: GSMS Jadi Panggung Seniman Lokal dan Pelajar Kayong Utara

Sementara itu, Zakaria Pangaribuan menyebut keterlibatannya sebagai seniman memberikan pengalaman pentinh dalam pengembangan praktik berkarya.

“MTN Lab menjadi ruang bagi saya untuk melihat kembali praktik yang selama ini saya jalani di Pontianak, lalu mendialogkannya dengan pengalaman seniman dari berbagai daerah. Proses ini memperkaya cara saya memandang karya dan tradisi,” katanya.

Secara keseluruhan, pameran ini menghadirkan 10 kurator dan 30 seniman. Mereka merespons tema melalui empat sub-tema utama, yaitu:

1. Tradisi sebagai Ruang: Melampaui Rasa dan Waktu

2. Di antara Jejak dan Tafsir: Tradisi yang Terus Dihidupi

3. Jelajah Ruang Hidup, Relasi Tubuh, dan Bebunyian

4. Homo-sentris: Kritik terhadap Manusia sebagai Pusat Segalanya

Selama pameran berlangsung, karya-karya para peserta mendapatkan apresiasi dari beberbagai seniman, kurator, akademisi, serta publik karena keragaman pendekatan artistik yang ditampilkan serta ruang dialog yang tercipta.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved