Ramadhan 2026

Ramadhan Jadi Momentum Hijrah, Perpindahan Hati dan Prilaku

Setiap tahun ketika bulan Ramadan tiba, umat Islam di seluruh dunia memasuki sebuah fase spiritual yang berbeda

|
Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
MOEMNTUM RAMADHAN - Eko Bahtiar, Kaprodi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Pontianak 

Semua ini adalah bentuk-bentuk hijrah yang konkret. Namun, hijrah hati tidak cukup jika tidak diikuti oleh hijrah perilaku. 

Banyak orang merasakan suasana religius selama Ramadan, tetapi kembali pada kebiasaan lama setelah bulan itu berakhir.

Tantangan terbesar bukanlah menjadi baik selama tiga puluh hari, melainkan mempertahankan kebaikan itu setelahnya. Di sinilah Ramadan harus dipahami sebagai sekolah karakter, bukan sekadar agenda tahunan. 

Dalam konteks sosial, hijrah perilaku dapat dimaknai sebagai perubahan cara kita berinteraksi dengan sesama. Puasa mengajarkan solidaritas.

Rasa lapar membuat kita lebih memahami penderitaan mereka yang hidup dalam kekurangan setiap hari. Jika setelah Ramadan kita masih abai terhadap kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan sosial, maka ada yang kurang dalam penghayatan puasa kita.

Ramadan juga menjadi momentum untuk hijrah dari budaya konsumtif menuju budaya reflektif. Ironisnya, di banyak tempat, bulan yang seharusnya identik dengan kesederhanaan justru berubah menjadi festival belanja dan pamer kemewahan.

Diskon besar-besaran, promosi makanan berlimpah, dan gaya hidup yang serba berlebihan sering kali menenggelamkan esensi spiritual Ramadan. Padahal, puasa sejatinya melatih kita untuk merasa cukup. Hijrah perilaku juga menyentuh ranah etika kerja.

Bagi sebagian orang, puasa dijadikan alasan untuk menurunkan produktivitas atau bersikap kurang ramah dengan dalih lelah dan lapar. Padahal, justru dalam kondisi berpuasa, integritas diuji.

Mampukah kita tetap profesional, jujur, dan bertanggung jawab meskipun fisik terasa lebih ringan? Jika ya, maka Ramadan telah berhasil membentuk karakter. 

Di era digital, hijrah hati dan perilaku memiliki dimensi baru. Media sosial kerap menjadi ruang pamer kebaikan.

Ibadah, sedekah, dan aktivitas keagamaan terkadang dipublikasikan secara berlebihan demi validasi sosial.

Ramadan mengajak kita untuk kembali pada keikhlasan melakukan kebaikan bukan untuk dilihat, tetapi untuk mendekat kepada Tuhan.

Hijrah digital berarti menggunakan teknologi secara bijak: mengurangi konten negatif, menyebarkan pesan positif, dan menjaga lisan termasuk lisan virtual dari ujaran kebencian. Momentum Ramadan juga relevan dalam membangun keluarga yang lebih harmonis.

Waktu berbuka bersama, salat berjamaah, dan tadarus dapat menjadi sarana mempererat hubungan yang mungkin renggang karena kesibukan. Hijrah hati dalam keluarga berarti saling memaafkan, mengurangi ego, dan memperbanyak dialog.

Banyak konflik rumah tangga sebenarnya berakar pada komunikasi yang buruk dan kurangnya empati. Ramadan memberi peluang untuk memperbaikinya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved