Ramadhan 2026
Ramadhan Jadi Momentum Hijrah, Perpindahan Hati dan Prilaku
Setiap tahun ketika bulan Ramadan tiba, umat Islam di seluruh dunia memasuki sebuah fase spiritual yang berbeda
Citizen Reporter
Eko Bahtiar
Kaprodi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Pontianak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Setiap tahun ketika bulan Ramadan tiba, umat Islam di seluruh dunia memasuki sebuah fase spiritual yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Suasana berubah.
Ritme hidup bergeser. Masjid-masjid menjadi lebih hidup, lantunan ayat suci terdengar lebih sering, dan percakapan tentang makna hidup, dosa, ampunan, serta harapan akan masa depan yang lebih baik menjadi lebih akrab di telinga.
Namun, di balik semua ritual dan tradisi yang menyertainya, Ramadan sejatinya menawarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: momentum hijrah perpindahan hati dan perubahan perilaku. Istilah “hijrah” sering kali dipahami secara simbolik sebagai perubahan dari kondisi yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik.
Secara historis, hijrah merujuk pada peristiwa monumental ketika Nabi Muhammad SAW berpindah dari Makkah ke Madinah demi menjaga dan mengembangkan dakwah Islam.
Peristiwa Hijrah itu bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi sosial, politik, dan spiritual. Dalam konteks kekinian, hijrah lebih relevan dipahami sebagai transformasi batin sebuah komitmen untuk memperbaiki diri secara menyeluruh.
Ramadan menyediakan ruang dan waktu yang ideal untuk proses hijrah tersebut. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan amarah, mengendalikan hawa nafsu, serta mengelola emosi dan pikiran.
Dalam kondisi lapar, manusia dipaksa untuk berhadapan dengan dirinya sendiri. Ia belajar bahwa banyak dorongan dalam hidupnya bukanlah kebutuhan, melainkan keinginan.
Di sinilah hijrah hati bermula: dari kesadaran bahwa diri ini rapuh, lemah, dan membutuhkan bimbingan Ilahi. Hijrah hati berarti menggeser orientasi hidup dari sekadar duniawi menuju keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Di luar Ramadan, kita mudah terjebak dalam rutinitas yang serba cepat pekerjaan, target, ambisi, kompetisi, dan tekanan sosial.
Hati menjadi keras tanpa disadari. Empati menipis, ibadah menjadi formalitas, dan relasi dengan Tuhan terasa jauh. Ramadan hadir sebagai “rem darurat” spiritual. Ia menghentikan laju yang terlalu cepat dan memaksa kita untuk merenung.
Ketika seseorang bangun pada sepertiga malam untuk sahur dan kemudian menunaikan salat malam, ia sedang melatih hatinya untuk peka.
Baca juga: Safari Ramadhan 1447 H Perdana Pemprov Kalbar, Gubernur Ria Norsan Sambangi Masyarakat Kapuas Hulu
Ketika ia memilih untuk tidak membalas kemarahan orang lain karena sedang berpuasa, ia sedang membangun benteng kesabaran. Ketika ia menyisihkan sebagian rezekinya untuk bersedekah, ia sedang membersihkan jiwanya dari sifat kikir.
| Tabligh Akbar Nuzulul Qur’an di Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang, Sekda Ajak Warga Perkuat Persatuan |
|
|---|
| Merakyat di Bulan Ramadan, Bupati Ketapang Alexander Wilyo Duduk Melingkar Bersama Warga |
|
|---|
| IWO Landak dan HPI POU Bagi Sembako ke Kaum Dhuafa di Masjid Ismahayana |
|
|---|
| Waspada! 10 Kebiasaan Sepele yang Bisa Mengurangi Pahala Puasa Ramadhan |
|
|---|
| Lengkap! Niat Zakat Fitrah Sekeluarga Langsung atau Untuk Diri Sendiri hingga Anak Sesuai Pilihan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Eko-Bahtiar-Kaprodi-Perbankan-Sya.jpg)