Dari Resep Keluarga, Lopes Vivi Jadi Jajanan Viral di Tepian Sungai Kapuas Pontianak

Tak jarang, antrean panjang terlihat di depan lapaknya. Banyak yang rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan jajanan viral ini.

Penulis: Anggita Putri | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Anggita Putri
JAJANAN PASAR - Warga tengah mengantre untuk membeli Lopes Vivi Kamboja di Tepian Sungai Kapuas Pontianak.  

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Beragam kuliner khas Kalimantan Barat selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang berkunjung ke daerah ini.

Salah satu jajanan tradisional yang belakangan kembali naik daun adalah kue Lopes khas Pontianak.

Berlokasi di Tepian Sungai Kapuas, Lopes Vivi Kamboja menjadi pusat perhatian masyarakat yang penasaran ingin mencicipi keunikan rasa dan bentuknya.

Tak jarang, antrean panjang terlihat di depan lapaknya. Banyak yang rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan jajanan viral ini.

Lopes buatan Vivi tak seperti lopes pada umumnya. Jika biasanya kue ini berbentuk segitiga, Lopes Vivi berbentuk bulat, memberikan kesan unik dan menarik secara visual.

Namun bukan hanya tampilannya, proses pembuatannya yang memakan waktu lama pun menjadikan rasa kue ini lebih istimewa.

“Biasanya kan Lopes bentuknya segitiga, kalau saya buat bulat. Prosesnya juga lama, direbus sampai enam jam, jadi rasanya lebih padat dan kenyal,” ungkap Vivi saat ditemui pada Minggu 3 Agustus 2025.

Vivi memulai usaha ini sejak tahun 2022, melanjutkan resep turun-temurun dari sang ibu yang memulai bisnis sejak 2017.

Baca juga: Bulog Salurkan 28.222 Ton Beras SPHP untuk Kalbar Hingga Desember 2025

Ia menjelaskan bahwa pulut atau ketan yang digunakan harus direndam terlebih dahulu dengan air kapuk sebelum dimasukkan ke dalam gulungan daun pisang dan direbus selama berjam-jam.

Keistimewaan lainnya terletak pada kuah gula merahnya, yang dibuat dari gula asli tanpa campuran.

“Gula merahnya kita pakai yang asli, jadi rasa manisnya lebih gurih dan alami,” jelasnya.

Popularitas Lopes Vivi Kamboja yang terus meningkat membuatnya harus membatasi pembelian.

Untuk pembeli langsung hanya dibatasi maksimal dua bungkus per orang, sementara pemesanan online melalui WhatsApp tetap dilayani sesuai antrian.

“Karena rame banget, saya bagi stoknya. Setengah untuk online, setengah untuk yang datang langsung. Supaya semua kebagian,” ujarnya.

Kini, terutama di akhir pekan, Vivi bisa mengolah hingga 60 kilogram ketan dalam sehari, jauh meningkat dibanding saat awal berjualan yang hanya sekitar 11 kilogram.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved