MABT Mempawah Kecam Pernyataan Fadli Zon Soal Tragedi Mei 1998, Subandio: Menyayat Hati Korban

Ia menilai, sebagai Menteri Kebudayaan, Fadli Zon seharusnya memiliki sensitivitas terhadap isu-isu kemanusiaan dan sejarah nasional.

Penulis: Ramadhan | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RAMADHAN
TANGGAPI FADLI ZON - Ketua Dewan Pimpinan Daerah Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kabupaten Mempawah, Subandio, angkat bicara menanggapi pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menyebut bahwa tidak ada pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa dalam Tragedi Mei 1998. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Ketua Dewan Pimpinan Daerah Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kabupaten Mempawah, Subandio, angkat bicara menanggapi pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menyebut bahwa tidak ada pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa dalam Tragedi Mei 1998.

Pernyataan Fadli Zon tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan aktivis hak asasi manusia dan komunitas Tionghoa.

Ketua DPD MABT Mempawah yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPC PKB Mempawah Subandio, menyebut pernyataan itu sebagai bentuk pengingkaran terhadap sejarah kelam bangsa yang belum genap tiga dekade berlalu.

“Pernyataan yang dilontarkan oleh Fadli Zon sangat menyayat hati para korban, keluarga korban, dan para pegiat HAM. Seolah-olah ingin menghapuskan luka mendalam yang masih dirasakan hingga hari ini,” tegasnya kepada awak media, Selasa 17 Juni 2025.

Ia menilai, sebagai Menteri Kebudayaan, Fadli Zon seharusnya memiliki sensitivitas terhadap isu-isu kemanusiaan dan sejarah nasional.

DWP Mempawah Dikukuhkan, Harleni Ismail: DWP Siap Bangun Bangsa dari Dalam Keluarga

Terlebih, Tragedi Mei 1998 telah menjadi perhatian internasional dan tercatat dalam laporan resmi negara.

“Fadli Zon seharusnya mengerti, mengkaji dan memahami secara mendalam permasalahan yang sangat sensitif ini. Bukan malah seenaknya bilang tidak ada pemerkosaan pada tragedi Mei 98," ujar Subandio.

"Ini fakta! Pemerkosaan terhadap perempuan Tionghoa tercatat dalam laporan Komnas Perempuan, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), dan bahkan menjadi perhatian dunia internasional,” tambahnya dengan nada geram.

Ia menambahkan bahwa suara-suara korban dan keluarganya sudah lama bersuara, begitu juga dengan laporan dan kesaksian dari berbagai lembaga.

Karena itu, menurutnya, pernyataan yang meremehkan atau menyangkal tragedi tersebut sangat menyakitkan.

“Tragedi Mei 1998 adalah peristiwa berdarah. Penembakan, pembakaran, penjarahan terjadi di berbagai tempat, dan yang paling memilukan adalah kekerasan seksual terhadap perempuan. Ini bukan sesuatu yang bisa dipungkiri atau diabaikan. Jangan seenaknya melontarkan pernyataan yang menyakiti perasaan korban,” imbuhnya.

Ia juga menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya tokoh publik, untuk menjaga empati terhadap korban kekerasan masa lalu dan tidak membuat pernyataan yang dapat memperkeruh luka lama yang belum sembuh.

“Sejarah tidak bisa dihapuskan hanya dengan satu pernyataan. Jangan jadi seperti orang baru 'suiman' yang tak tahu apa-apa, padahal fakta dan bukti sejarah ada di depan mata,” tutupnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved