Mie Asin Singkawang, Tradisi Rasa yang Terjaga Hingga Generasi Ketiga

Setiap hari, Afui mampu memproduksi sekitar 500-600 kilogram mie asin. Mie asin tersebut dijual dalam kemasan per 5 kilogram.

Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/TRI PANDITO WIBOWO
MIE ASIN SINGKAWANG - Di balik bangunan sederhana, Afui (62) dengan cekatan mengolah mie asin, hidangan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kuliner khas Singkawang. Afui adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha pembuatan mie asin ini. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Di sebuah sudut kota Singkawang, aroma mie asin yang khas menggugah selera.

Di balik bangunan sederhana, Afui (62) dengan cekatan mengolah mie asin, hidangan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kuliner khas Singkawang.

Afui adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha pembuatan mie asin ini. Usaha yang telah berdiri selama kurang lebih 100 tahun ini bermula dari keluarga yang kemudian diwariskan secara turun-temurun.

"Ini sudah generasi ketiga. Saya meneruskan usaha keluarga," ujar Afui saat diwawancara tribunpontianak.co.id, di Rumah Produksi Mie Asin Kembang Dua, Kamis, 13 Februari 2024.

Mie asin buatannya memiliki cita rasa yang khas dan tekstur yang kenyal. Mie ini cocok diolah menjadi berbagai hidangan, seperti sop, mie goreng, atau mie kuah. Tak heran, mie asin Singkawang menjadi favorit para pedagang kuliner dan masyarakat setempat.

"Biasanya orang pesan untuk jualan sop atau untuk dimasak sendiri di rumah," katanya.

Mie asin Singkawang tidak hanya dikenal di Kalimantan Barat, tetapi juga di luar daerah, bahkan hingga ke Jakarta. Beberapa pembeli bahkan ada yang memesan mie asin untuk dijadikan oleh-oleh.

"Ada yang ambil mie asin sampai ke Jakarta," ungkapnya.

Setiap hari, Afui mampu memproduksi sekitar 500-600 kilogram mie asin. Mie asin tersebut dijual dalam kemasan per 5 kilogram.

"Kami jual per kilo Rp. 13.000," jelasnya.

Baca juga: Biaya Retreat Kepala Daerah Ditanggung APBN, Pemkot Singkawang Belum Lakukan Transfer

Afui mengakui bahwa usaha mie asinnya tidak selalu berjalan mulus. Ada suka dan duka dalam menjalankan usaha ini. Namun, ia tetap bersemangat untuk terus melestarikan tradisi pembuatan mie asin Singkawang.

"Harapannya, usaha ini bisa terus berjalan dan tidak terlalu banyak persaingan," tuturnya.

Salah satu hal yang membedakan mie asin Singkawang dengan mie asin lainnya adalah penggunaan bahan baku berkualitas. Ia menggunakan tepung gandum pilihan dan garam untuk membuat mie asinnya.

"Yang membedakan mie asin buatan saya dengan yang lain adalah kualitas tepungnya," jelasnya.

Selain itu, proses pembuatan mie asin Singkawang juga masih menggunakan cara manual, meskipun sudah dibantu dengan mesin dinamo. Hal ini diyakini turut mempengaruhi cita rasa khas mie asin Singkawang.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved