Siswa Pontianak Ngeri Lihat Efek Main Layangan Kawat Dekat Jaringan PLN, Meledak dan Ancam Nyawa

Bermain layangan dengan tali kawat tak hanya mengancam jaringan PLN, tapi juga bisa merenggut nyawa

Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/NASARUDDIN
Murid SMPN 28 Pontianak, di Jalan Kebangkitan Nasional, Siantan Hulu mendengarkan edukasi kelistrikan dari PLN Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (UIP3B) Kalimantan, Kamis 14 November 2024. Sejumlah siswa mengaku takut dengan bahaya bermain layangan kawat dekat jaringan listrik PLN setelah melihat video dalam edukasi tersebut. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - General Manager PLN Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (UIP3B) Kalimantan, Abdul Salam Nganro mengatakan, kebutuhan listrik sudah sangat meningkat.

Listrik saat ini tak hanya dibutuhkan pada malam hari, tetapi 24 jam.

"Artinya listrik diinginkan masyarakat hadir 24 jam. Kualitas yang diinginkan juga baik, tidak redup-redup," katanya dalam event Ekosistem Peduli Listrik Award 2024 yang digelar di Qubu Resort Jalan Arteri Supadio, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kamis 14 November 2024.

Abdul mengatakan, untuk Kalimantan Barat, pemakaian listrik tumbuh sembilan persen di tahun 2024 ini.

Angka ini lebih besar dibanding tahun 2023 dan 2022 yang tumbuh tujuh persen.

Kisah Heru Merambat Kabel PLN di Ketinggian 35 Meter Demi Jaga Listrik Warga Pontianak

"Tahun ini, baru sampai Oktober, belum di penghujung tahun, kita kenaikannya 9 persen. Ini menunjukkan bahwa perekonomian di Kalimantan Barat tumbuh," katanya.

"Artinya, PLN harus siap siaga menyiapkan sistem kelistrikan yang andal. Sehingga roda ekonomi bisa tetap terjaga dengan baik. Industri-industri bisa tumbuh, masyarakat juga bisa memakai listrik dengan baik," lanjutnya.

Untuk mewujudkan kelistrikan yang andal, PLN harus menghadapi berbagai tantangan.

Khusus di Kalimantan Barat, Abdul mengatakan dirinya memotret tiga terbesar penyebab listrik sering gangguan pada tiga tahun terakhir, layang-layang, petir dan pohon

Dari ketiga itu, layang-layang menjadi penyebab terbesar terjadinya gangguan listrik.

Pada 2022, terdapat 73 kali gangguan akibat layang-layang atau 89 persen dari keseluruhan penyebab padam.

Akibat gangguan itu, terjadi pemadaman dengan durasi 41 menit yang dirasakan 303.019 pelanggan.

Kolaborasi Sukses: Simulasi Tanggap Darurat Kebakaran di PLN UIP KLB Libatkan Banyak Pihak

Sementara, gangguan akibat petir hanya enam kali terjadi dan tiga kali akibat pohon.

Jumlah gangguan listrik akibat layangan meningkat menjadi 186 gangguan di tahun 2023.

Gangguan ini menyebabkan pemadaman dengan durasi 31 menit yang dirasakan 398.980 pelanggan PLN.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved