Potensi Program Petani Milenial Menurut Pengamat Ekonomi Untan Eko Supriyanto

"Potensi mereka dalam memajukan sektor ini sangatlah besar dengan mengadopsi Teknologi Pertanian Modern, Kreativitas dan Inovasi, Kesadaran Lingkungan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
Koordinator Duta Petani Milenial Kabupaten Sambas, Kalbar, Juliadi. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kementerian Pertanian tengah mendorong pengembangan industri pertanian melalui program "Petani Milenial".

Program ini diharapkan dapat mengembangkan industri pertanian di Indonesia dengan semakin banyak anak kuda yang terjun dalam bidang pertanian.

Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak, Eko Supriyanto, SE, ME menilai petani milenial mempunyai potensi besar. 

"Generasi Milenial merupakan generasi yang tumbuh dengan teknologi digital dan memiliki semangat inovasi yang tinggi. Kondisi saat ini, Untuk petani milenial berumur 19–39 tahun sebesar 21,93 persen dari total petani di Indonesia yang sebanyak 28,19 juta orang," ujarnya Selasa 12 November 2024. 

Sementara itu, petani milenial yang berumur lebih dari 39 tahun dan menggunakan teknologi digital sebanyak 10,59 juta orang (37,58 persen). Namun Petani milenial ini banyak berada di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. 

Ia mengatakan generasi milenial, dengan semangat inovasi dan pemahaman teknologi yang kuat, membawa angin segar bagi sektor pertanian. 

"Potensi mereka dalam memajukan sektor ini sangatlah besar dengan mengadopsi Teknologi Pertanian Modern, Kreativitas dan Inovasi, Kesadaran Lingkungan, Jaringan dan Komunikasi yang Luas dan Startup Pertanian," ujarnya.

Dinas Pertanian Sambas Sambut Program Petani Milenial, Segera Bangun Koordinasi dengan Petani

Begitu juga kata Eko potensi yang dapat terjadi di Provinsi Kalbar, melalui Petani milenial ini yang memiliki peran penting dalam memajukan sektor pertanian di Kalbar

"Peran yang mereka bisa lakukan dengan melakukan perubahan melalui de-ide baru dan teknologi modern, melakukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga penelitian dan pelaku bisnis untuk bisa saling bersinergi," ujarnya.

Petani milenial kata Eko dapat menjadi influencer di media sosial untuk mempromosikan pertanian dan produk pertanian lokal. 

Dengan begitu maka dapat terjadi penyerapan tenaga kerja, peningkatan produktivitas, diversifikasi produk, pembentukan nilai tambah dan pemasaran secara digital. 

Ia mengaku dengan penyerapan tenaga kerja yang baru maka dapat berdampak kepada kemiskinan di Kalbar.

Untuk memaksimalkan potensi pertanian dalam menurunkan angka kemiskinan dan menyerap tenaga kerja.

"Nah, beberapa strategi dapat dilakukan seperti, Peningkatan Akses terhadap Teknologi, Pemberian Pelatihan dan Pendidikan, Pembentukan Koperasi atau Kelompok Tani, Pengembangan Infrastruktur serta Dukungan Kebijakan sehingga Pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan yang mendukung pengembangan pertanian, seperti pemberian subsidi, perlindungan harga, dan kemudahan perizinan," ujarnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved