Renungan Harian
Renungan Katolik Minggu 22 September 2024, Bacaan Injil Hari Ini Markus 9:30-37
Injil hari ini Injil Markus 9:30-37 mengisahkan tentang Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi pelayan dari semuanya.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Renungan Katolik Minggu 22 September 2024 diangkat dari bacaan injil hari ini Markus 9:30-37.
Injil hari ini Injil Markus 9:30-37 mengisahkan tentang Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi pelayan dari semuanya.
Orang fasik menyerang orang benar yang jalannya berbeda sekali dengan mereka (ayat 12), Tafsir Alkitab PL oleh Dianne Bergant, CSA dan Robert J.Karris, OFM, hal 769.
Orang fasik merencanakan untuk mencobai orang benar (ayat 17-20), untuk melihat seperti Ayub (Ayb 1:6-12), apakah orang benar akan tetap bertahan dalam keyakinan mereka.
Namun disini tampaknya orang fasik tidak mau berubah dan bertobat, karena mereka begitu buta.
Ada ironi mengerikan dalam kata-kata mereka dalam ayat 20; andaikata Allah benar-benar melindungi orang yang menjadi korban mereka, maka orang fasik pasti dihukum.
Sebab selama itu orang fasik merasa diri mereka aman-aman saja.
[Cek Berita dan informasi Renungan Harian klik di Sini]
Kebutaan rohani orang fasik menjadikan mereka tidak bisa melihat anugerah dan berkat Tuhan atas diri manusia.
Orang fasik mengandalkan kekuatan diri mereka dan segala sesuatu adalah hasil usahanya.
Inilah manusia duniawi yang tidak memikirkan hidup ilahi yang kekal dikemudian hari, orang fasik seperti ini tetap ada banyak disekitar kita saat ini.
Hati-hati dan waspada dalam pergaulan dan jangan lupa senantiasa mengandalkan Tuhan sebagai senjata kita.
Dalam Kitab Kebijaksanaan digambarkan, bahwa Mesias bukanlah orang yang berambisi untuk memperoleh nama baik atau kemenangan atau kedudukan duniawi, tetapi ia melayani semua orang sesuai dengan kehendak dan perkenanan Allah.
Semoga bacaan renungan harian meneguhkan iman saudara.
Berikut ini renungan katolik disadur dari thekatolik.com.
Renungan Katolik
Malu bertanya, sesat di jalan.
Itulah yang terjadi pada murid-murid Yesus.
Walau tidak mengerti perkataan Yesus mengenai kematian dan kebangkitan-Nya, mereka enggan bertanya (ayat 32).
Akibatnya mereka sesat. Ini tampak dari topik pembicaraan mereka kemudian, yaitu tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Ironis bukan?
Mereka mengira bahwa Yesus akan menjadi raja besar.
Dan orang yang terbesar dari antara para murid, tentu akan diberi jabatan terbesar dalam kerajaan yang akan didirikan Sang Guru.
Maka Yesus mengajar mereka bahwa kebesaran dalam kerajaan-Nya tergantung dari kesediaan orang untuk melayani orang lain.
Bahkan meski yang dilayani itu adalah seorang anak (ayat 36).
Dalam budaya Yahudi, anak tidak dianggap penting.
Pandangan Yesus berbeda dari pandangan dunia yang menganggap bahwa kebesaran ditentukan oleh seberapa banyak orang yang melayani kita.
Dunia memang mencari kebesaran dalam bentuk kuasa, popularitas, dan kekayaan.
Ambisi dunia adalah menerima perhatian dan penghargaan.
Lalu salahkah berambisi menjadi orang besar?
Bukan demikian. Yesus ingin meluruskan pandangan bahwa kebesaran adalah menjadi orang pertama, sementara orang lain menjadi nomor dua, tiga, dan seterusnya.
Kebesaran sejati bukan menempatkan diri di atas orang lain supaya kita dimuliakan.
Kebesaran adalah menempatkan diri kita untuk melayani dan menjadi berkat bagi sesama.
Misalnya seorang dokter.
Ia dianggap besar bukan karena ia seorang spesialis yang bekerja di rumah sakit mahal.
Atau karena ia sering menjadi pembicara di seminar-seminar kesehatan.
Ia dianggap besar bila ia juga menyediakan waktunya untuk menangani orang miskin.
Hasrat menjadi yang terbesar dapat mengancam keefektifan kita sebagai murid Tuhan.
Hasrat untuk dimuliakan seharusnya tidak dimiliki seorang pengikut Yesus.
Apa solusinya?
Milikilah hati seorang hamba.
Bersiaplah mengutamakan orang lain dan merendahkan diri sendiri.
Ingatlah bahwa Yesus rela dianggap tak berarti dan memikul salib bagi kita.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat tinggal dalam persekutuan dengan Allah yang telah rusak karena dosa-dosaku, namun yang telah dipulihkan kepadaku melalui kematian-Mu di kayu salib dan kebangkitan-Mu.
Semoga melalui persekutuan ini aku dapat memperoleh kerendahan-hati yang Kau hasrati bagi diriku.
Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.
Amin.
(*)
Informasi Terkini Tribun Pontianak Kunjungi Saluran WhatsApp
Ikuti Terus Berita Terupdate Seputar Kalbar Hari Ini Di sini
Renungan Katolik Minggu 22 September 2024
renungan harian katolik
renungan hari ini
renungan harian
renungan katolik hari ini
renungan Katolik
renungan
Katolik
bacaan injil hari ini
Injil hari ini
bacaan injil
| Bacaan Liturgi Katolik Kamis 20 Februari 2025: Panggilan untuk Mengikuti Kristus dengan Pengorbanan |
|
|---|
| Renungan Katolik Kamis 20 Februari 2025: Ikutlah Aku dan Biarkanlah Segala Sesuatu yang Lain |
|
|---|
| Renungan Kristen Kamis 20 Februari 2025: Hidup dalam Kasih dan Pengampunan |
|
|---|
| Pesan Bacaan Liturgi Katolik Rabu 19 Februari 2025: Hari Biasa dengan Warna Liturgi Hijau |
|
|---|
| Renungan Katolik Rabu 19 Februari 2025: Memahami Proses Penyembuhan dan Janji Allah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Renungan-Katolik-Minggu-22-September-2024-Bacaan-Injil-Hari-Ini-Markus-930-37.jpg)