Renungan Harian
Renungan Katolik Jumat 23 Agustus 2024 dan Bacaan Injil Matius 22:34-40
Bacaan renungan Katolik hari ini memperingati hari raya Santa Rosa da Lima. Teladan hidup Santa Rosa da Lima menjadi Renungan hari ini bagi kita semu
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Renungan Katolik Jumat 23 Agustus 2024 diambil dari bacaan injil Matius 22:34-40.
Bacaan renungan Katolik hari ini memperingati hari raya Santa Rosa da Lima.
Teladan hidup Santa Rosa da Lima menjadi Renungan hari ini bagi kita semua.
Rosa dipandang sebagai wanita yang kudus luar biasa dengan suatu corak hidup yang luar biasa pula.
Cara hidupnya yang diwarnai dengan penyiksaan diri yang heroik itu sulit ditiru wanita kudus lainnya, bahkan semua orang lain.
Ia menjadi teladan kekudusan bagi kita semua.
Semoga bacaan renungan meneguhkan iman kita.
Berikut ini renungan katolik disadur dari penakatolik.com.
[Cek Berita dan informasi Renungan Harian klik di Sini]
Renungan Katolik
Isabella de Flores-demikian nama Rosa da Lima-lahir di Lima, Peru pada tanggal 20 April 1586.
Puteri bungsu dari pasangan Gaspar Flores dan Maria Olivia ini begitu cantik, sehingga ibunya memanggil dia ‘Rosa’ yang berarti ‘bunga mawar’.
Nama ini pun secara spontan diberikan oleh Uskup Agung kota Lima tatkala Isabella menerima Sakramen Krisma.
Namun nama yang manis ini kontras sekali dengan cara hidup yang keras yang ia praktekkan untuk mengambil bagian dalam penderitaan Kristus.
Sewaktu Rosa masih kanak-kanak, orangtuanya yang berdarah Spanyol yang tergolong kaya itu.
Namun sayang bahwa kemudian mereka jatuh miskin karena bangkrut dalam usaha dagang yang dikelola sang ayah.
Ketika menanjak remaja, Rosa terpaksa harus bekerja membantu orangtuanya.
Selain bekerja di kebun, ia juga menjahit untuk sekadar memperoleh uang tambahan guna memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dalam perjalanan hidup selanjutnya, Rosa merasakan suatu gejolak batin yang mendorong dia untuk menjalani suatu cara hidup khusus mengikuti jejak Kristus.
Ia tak berdaya menghalau gejolak batin itu, sehingga akhirnya ia mulai menjalani corak hidup khusus itu.
Ia berpuasa tiga hari seminggu dan berpantang dari buah-buahan.
Wajahnya yang cantik molek itu sering dicorengnya dengan kapur agar tampak tidak menarik.
Daripada itu, orangtuanya telah merencanakan perkawinannya dengan seorang pemuda yang mereka sukai.
Selama 10 tahun ia berjuang keras melawan keinginan orangtuanya untuk mengawinkan dia dengan pemuda itu.
Tatkala desakan dan paksaan orangtuanya memuncak, Rosa segera mengikrarkan kaul keperawanan dan masuk ordo ketiga Santo Dominikus.
Sebagaimana biasa, ordo ketiga tidak menuntut anggota-anggotanya menjalani kehidupannya di dalam biara; sebaliknya membiarkan mereka tetap menjalani kehidupannya di tengah–tengah masyarakat.
Rosa pun tetap tinggal bersama orangtuanya sambil dengan tekun menghayati panggilannya.
Rosa mendirikan sebuah pondok dikebunnya dan hidup disana sebagai seorang pertapa sampai berusia 28 tahun.
Cara hidup Rosa sangat keras. Ia lebih banyak menggunakan waktunya untuk berdoa dan bertapa.
Waktu malam ia hanya tidur selama dua jam.
Ia tidur diatas ranjang yang ditaburi dengan pecahan-pecahan kaca.
Tudung kepalanya sangat kasar; makanannya sangat sedikit berupa roti untuk jangka waktu dua–tiga minggu.
Pantang dan puasa yang keras ini membuat badannya sangat lemah.
Rosa dipandang sebagai wanita yang kudus luar biasa dengan suatu corak hidup yang luar biasa pula.
Cara hidupnya yang diwarnai dengan penyiksaan diri yang heroik itu sulit ditiru wanita kudus lainnya, bahkan semua orang lain.
Selama tiga tahun terakhir hidupnya, Rosa tinggal di rumah Don Gonzalo de Massa, seorang pegawai pemerintahan yang istrinya mengenal baik Rosa.
Di sana pula, Rosa menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 24 Agustus 1617 di Lima.
Ia dinyatakan ‘kudus’ oleh Sri Paus Klemens X (1670–1676) pada tanggal 12 April 1671.
Doa Penutup
Ya Bapa, St. Rosa menjadi teladan kekudusan bagi kami.
Hidupnya diwarnai dengan penyiksaan diri yang heroik itu sulit ditiru wanita kudus lainnya, bahkan semua orang lain.
Semoga kami dapat meniru sedikit saja teladan hidupnya, hingga kami dapat sedikit-demi sedikit meraih kekudusan.
Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.
Amin.
(*)
Informasi Terkini Tribun Pontianak Kunjungi Saluran WhatsApp
Ikuti Terus Berita Terupdate Seputar Kalbar Hari Ini Di sini
Renungan Katolik Jumat 23 Agustus 2024
renungan harian katolik
renungan hari ini
renungan harian
renungan Kristen
renungan
Katolik
bacaan injil hari ini
Injil hari ini
bacaan injil
Santa Rosa da Lima
| Bacaan Liturgi Katolik Kamis 20 Februari 2025: Panggilan untuk Mengikuti Kristus dengan Pengorbanan |
|
|---|
| Renungan Katolik Kamis 20 Februari 2025: Ikutlah Aku dan Biarkanlah Segala Sesuatu yang Lain |
|
|---|
| Renungan Kristen Kamis 20 Februari 2025: Hidup dalam Kasih dan Pengampunan |
|
|---|
| Pesan Bacaan Liturgi Katolik Rabu 19 Februari 2025: Hari Biasa dengan Warna Liturgi Hijau |
|
|---|
| Renungan Katolik Rabu 19 Februari 2025: Memahami Proses Penyembuhan dan Janji Allah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Renungan-Katolik-Jumat-23-Agustus-2024-dan-Bacaan-Injil-Matius-2234-40.jpg)