Disdikbud Kalbar Buka Pendidikan Layanan Khusus untuk Daerah Kepulauan di Kalbar
Dan untuk sekolah nya itu tetap menggunakan sekolah disana, dan untuk satuan administrasi pangkal nya , akan bergabung dengan SMA terdekat.
Penulis: Anggita Putri | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat mengambil kebijakan untuk memberikan pendidikan layanan khusus untuk daerah kepulauan, di Kalimantan Barat untuk jenjang SMA/SMK.
Tahun 2024 ini, Diskdikbud Kalbar akan memulai pendidikan layanan khusus ini, pada dua lokasi yang memang dilokasi tersebut ada anak -anak lulusan SMP namun tidak ada SMA diwilayah tersebut, yakni di Desa Pelita Jaya, Kabupaten Kubu Raya, dan Pulau Lemukutan, Kabupaten Bengkayang.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Rita Hastarita menjelaskan seperti di Desa Pelita Jaya, di Kabupaten Raya itu, untuk siswa yang ingin melanjutkan ke jenjang SMA saja, akses terdekatnya hanya melalui jalur air sekitar 30-45 menit.
“Kami upayakan bagaimana menghadirkan sekolah disana, tapi tidak membangun unit sekolah baru . Dan itu berdasarkan Permendikud nomor 72 tahun 2013. Jadi boleh memberikan akses pendidikan layanan khusus. Dan kebijakan ini bisa menjadi solusi untuk daerah yang memiliki kesulitan akses pendidikan, seperti di daerah terpencil,” ujar Rita,Selasa 4 Mei 2024.
Dikatakan Rita, nantinya bukan siswanya yang ramai-ramai keluar dari pulau tempt mereka tinggal, tetapi tenaga pendidik dalam hal ini guru lah yang akan dihadirkan ke pulau itu.
Baca juga: Stand Pontianak Pamerkan Kopi Aming dan Sotong Pangkong di ICE APEKSI Balikpapan
“Dan untuk sekolah nya itu tetap menggunakan sekolah disana, dan untuk satuan administrasi pangkal nya , akan bergabung dengan SMA terdekat,” ujar Rita.
Pada tahun ini, pendidikan layanan khusus ini akan dibuka di Desa Pelita Jaya, yang mana disana terdapat sekolah jenjang SMP , yang setiap tahunnya meluluskan 25-35 siswa.
“Biasanya kalau mereka mau lanjut SMA harus ke SMA N 1 Kubu, itu waktu tempuhnya pakai motor air 30 menit , belum lagi antri nya bisa 40 menit. Sehingga ada resiko keamanaan anak-anak saat pergi ke sekolah, dan waktu tempuh yang lama bisa menjadi penyebab anak-anak disana kesulitan mendapatkan pendidikan,” jelas Rita.
Belum lagi misalnya, ada orangtua yang merasa bimbang anaknya yang sekolah jauh. Seningga, keputusan yang diambil yakni tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikut nya.
“Kita khawatir hambatan seperti itu lah , yang menyebabkan anak-anak tidak melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi . Sehingga akan mempengaruhi kualitas SDM di Kalbar. Kita ingin semua anak memproleh pendidikan. Maka dari itu, di Desa Pelita Jaya di Kubu Raya kita bentuk pendidikan layanan khusus,” ujar Rita.
Untuk tahun ini, dikatakan Rita akan di bangun hanya dua ruang kelas saja untuk digunakan para siswa, dan gurunya akan di datangkan dari sekolah terdekat yakni guru dari SMA Negeri 1 Kubu, Kabupaten Kubu Raya, yang akan secara bergantikan mengajar siswa disana.
“Nanti kita tugaskan bergantian, bisa dua atau tga hari bergantikan, atau pun pulanh pergi (PP). Karena mapelnya yang diajarkan berbeda-beda. Nanti kalau ada praktek baru anak-anak sesekali pergi ke sekolah induknya,” imbuh Rita.
Dikatakannya, nantinya siswa yang sekolah di Desa Pelita Jaya itu menjadi bagian dari SMA N 1 Kubu.
“Jadi kita tidak membentuk atau membangun unit sekolah baru, karena kalau kita bangun terutama biaya besar dan kemudian ketersediaan guru harus terpenuhi. Sekarang saja kita masih banyak kekurangan guru, dan jumlah peserta didik disana juga tidak ramai hanya menampung anak lulusan SMP di desa itu saja,” ungkap Rita.
Dengan pendidikan layanan khusus ini, Dikatakan Rita menjadi solusi yang strategis untuk bisa dijalankan di beberapa daerah.
Seperti diketahui, Provinsi Kalbar sendiri mempunyai luas tiga kali lipat dari luas pulau Jawa. Kemudian beberapa daerah ada kepulauan, sehingga menjadi salah satu tantangan untuk penyediaan akses pendidikan.
Lalu, daerah lain yang akan dibuka untuk pendidikan layanan khusus yakni di Pulau Lemukutan, Kabupaten Kubu Raya yang sudah puluhan tahun tidak mempunyai SMA/ SMK disana.
“Selama ini anak-anak disana melanjutkan sekolah itu harus keluar dari pulau, yang terdekat bisa ke SMA N 1 Sungai Raya Kepulauan, atau SMK N 1 Sungai Raya Kepulauan,” ujarnya.
“Konsekuensi anak-anak ini tidak bisa Pulang Pergi, karna kalau pakai kapal motor ini, kalau jam 07.00 WIB berangkat dengan masa tempuh bisa 1 jam 30 menit, itu baru sampai ke Teluk Suak, belum ke sekolah lagi. Jadi waktu tempuhnya hampir 2 jam baru bisa sampai ke sekolah dengan resiko yang begitu besar,” tambah Rita.
Hal ini lah yang menjadi perhatian pihaknya. sehingga diambilkan kebijkan untuk membuka pendidikan layanan khusus di Pulau Lemukutan.
“Belum lama ini saya sudah koordinasi dengan perangkat desa disana, siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA itu tidak sampai 50 persen . Saya juga sudah koordinasi ke sekolah terdekat, biasanya satu tahun yang melanjutkan paling 5 orang di SMA 1 Sungai Raya kepulauan, dan 7 orang di SMK N 1 Sungai Raya Kepulauan,” jelas Rita
Dikatakan Rita, sejauh ini lulusan SMP Pulau Lemukutan itu biasanya sekitar 22-30 siswa saja.
Artinya hanya 50 persen saja siswa SMP yang melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
“Tapi kan mereka harus keluar pulau dan harus kos atau menumpang di rumah keluarga. Tapi gimana kalau yang tak miliki biaya , otomatis tak bisa lanjut sekolah. Itu lah yang tak kita inginkan terjadi di Pulau Lemukutan,” jelas Rita.
Lebih lanjut, Rita mengatakan bahwa minggu lalu ia telah memutuskan untuk membuka sekolah pendidikan layanan khusus dengan mendatangkan guru dari SMA terdekat, dan menumpang di gedung SD yang layak digunakan di Pulau Lemukutan.
“Sama polanya, kalau ada praktek baru sesekali mereka ke sekolah induk. Itu namanya sekolah terbuka, studi kelayakannya juga sudah saya naikan ke pimpinan, tinggal dikoreksi dan persetujuan pimpinan untuk pendidikan layanan khusus di dua kepulauan ini,” ungkap Rita.
Inilah dikatakannya, sebagai salah satu upaya untuk memberikan kemudahan akses pendidikan di wilayah kepulaun,dan tidak menutup kemungkinan akan dibuka ditempat lain sambil pihak Disdikbud melihat potensi apa yang menyebabkan anak-anak di wilayah tersebut tak melanjutkan sekolah.
“Prinsip saya semua anak harus mendapatkan pendidikan, mau pendidikan formal di sekolah, non formal atau informal . Kami akan terus carikan solusi kita menciptkan SDM yang unggul dan berkualitas melalui pendidikan yang layak di Kalbar,” tegas Rita.
Bahkan, Disdikbud Kalbar telah mengambil keputusan untuk membuka PPDB untuk di dua lokasi tersebut, walaupun tidak ada gedung disana. Dikatakan Rita, tidak akan menjadi halangan untuk memberikan akses pendidikan.
“Kita bisa gunakan gedung yang ada di desa . Karena kita sama-sama membangun dan kita sudah koordinasi dengan dua kabupaten ini,” pungkasnya. (*)
Informasi Terkini Tribun Pontianak Kunjungi Saluran WhatsApp
Ikuti Terus Berita Terupdate Seputar Kalbar Hari Ini disini
SMA Kristen Talenta Singkawang Jadi Simbol Ketulusan Guru Mengajar dan Semangat Anak Bangsa Belajar |
![]() |
---|
Pos Kamling Murai Sekadau Raih Juara I Lomba Satkamling Tingkat Polda Kalbar 2025 |
![]() |
---|
Kapolresta Pontianak Pimpin Pengamanan, Aksi Damai Mahasiswa di Kantor DPRD Kalbar Berjalan Kondusif |
![]() |
---|
RSUD dr. Soedarso Disiapkan Menjadi Rumah Sakit Penyelenggara Pendidikan Dokter Spesialis |
![]() |
---|
Polwan Polres Melawi Bantu Ariski Sabel di Desa Labang |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.