Piala Thomas dan Uber 2024

Sosok Legenda Dibalik Piala Thomas dan Piala Uber! Siapa Pembuat Piala Thomas dan Piala Uber?

Piala Thomas dengan tingg 71cm dibuat oleh Atkin Bros dari London, piala berwarna perak ini terdiri dari sebuah cangkir di atas alas, dengan sosok....

|
Editor: Marlen Sitinjak
bwfbadminton
Sosok Legenda Dibalik Piala Thomas dan Piala Uber dan Perancang Piala Thomas dan Piala Uber. BWF Final Piala Thomas & Uber 2024, berlangsung di China, Sabtu 27 April - Minggu 5 Mei 2024. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Turnamen bergengsi badminton, BWF Final Piala Thomas & Uber 2024, berlangsung di China, Sabtu 27 April - Minggu 5 Mei 2024.

Para pebulutangkis beregu pria akan memperebutkan Piala Thomas dan pebulutangkis beregu putri merebut Piala Uber.

Lalu bagaimana sejarah Piala Thomas dan Piala Uber?

Piala Thomas dengan tinggi 71 cm dibuat oleh Atkin Bros dari London, piala berwarna perak ini terdiri dari sebuah cangkir di atas alas, dengan sosok pemain di atas tutupnya.

Namanya diberikan untuk menghormati Sir George Thomas, Pendiri-Presiden legendaris Federasi Bulutangkis Internasional (sekarang BWF), yang ingin agar bulutangkis memiliki Piala Davis versinya sendiri dalam tenis.

Piala Thomas telah berjalan jauh, namun tidak memiliki awal yang baik. Tak lama setelah Sir George mengusulkan gagasan untuk kejuaraan beregu putra internasional pada tahun 1939 (hanya lima tahun setelah IBF didirikan), Perang Dunia II pecah.

Namun rencana tersebut tidak dibatalkan, dan pada tahun 1946, pada RUPS pertama Dewan sejak tahun 1940, kejuaraan putra direncanakan untuk tahun 1948-49.

Daftar Juara Thomas Cup dan Uber Cup Lengkap Dari Masa ke Masa

Negara-negara dibagi menjadi empat zona: Pan Amerika, Asia (Timur dan Barat), Australasia dan Eropa. Kompetisi ini diadakan tiga tahun sekali, formatnya terdiri dari pertandingan best-of-nine: lima tunggal dan empat ganda.

Di final pertama, Malaya mengalahkan Denmark 8-1. Sir George mempersembahkan trofi tersebut kepada kapten pemenang Lim Chuan Geok.

Piala Thomas dilanjutkan dengan pertarungan yang lebih terkenal. Malaya menyapu bersih tiga edisi pertama, namun pada tahun 1957-1958 justru Indonesia yang bangkit seperti burung phoenix, mengalahkan semua penantangnya selama dua dekade berikutnya.

Satu-satunya gangguan terhadap kejayaan mereka terjadi pada edisi 1966-67 ketika Malaysia mendapat hasil imbang karena masalah penonton pada final di Jakarta.

Perubahan dilakukan pada format segera setelahnya. Hingga tahun 1966-67, pemenang antar-zona harus melawan juara bertahan di final 'Putaran Tantangan' untuk memperebutkan trofi, tetapi setelah tahun itu, Putaran Tantangan dihapuskan.

Masuknya Tiongkok ke kancah internasional pada awal tahun 1980an memberikan perubahan lain.

Meskipun sampai saat itu akses internasional mereka masih terbatas, Tiongkok telah membuktikan bahwa mereka sudah menjadi yang terdepan di dunia.

Final, melawan juara bertahan Indonesia, terbukti menjadi salah satu pertemuan paling memukau sepanjang masa: 5-4 untuk Tiongkok pada debut mereka, dengan Han Jian menjadi bintang acara tersebut dengan mengalahkan juara All England tiga kali Liem Swie King 15 -12, 11-15 dan 17-14.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved