Prihatin Pengeluaran Masyarakat Pontianak Terhadap Rokok Lebih Tinggi Ketimbang Sumber Protein

Sedangkan pengeluaran per kapita terbesar ketiga masyarakat Pontianak terhadap kelompok makanan adalah untuk rokok yaitu sebesar Rp 77.604, nilai ini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/FILE
Ketua Persatuan Ahli Gizi Kota Pontianak, Herkulana Farida. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pontianak beberapa waktu lalu baru saja merilis data Indikator Kesejahteraan Masyarakat Kota Pontianak di tahun 2023.

Salah satu yang menjadi objek penilaian adalah rata-rata pengeluaran per kapita dalam sebulan untuk makanan.

Pada data itu, menampilkan pengeluaran per kapita masyarakat Pontianak dalam sebulan untuk makanan adalah sebesar Rp 812.858, nilai ini meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 797.962.

Jika dilihat lebih rinci, pengeluaran per kapita terbesar masyarakat Pontianak terhadap kelompok makanan adalah untuk makanan dan minuman jadi yakni sebesar Rp 290.662, angka ini naik dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 263.175.

Di posisi berikutnya, pengeluaran per kapita terbesar kedua masyarakat Pontianak terhadap kelompok makanan adalah untuk ikan yakni sebesar Rp 91.780, nilai ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 101.151.

Sedangkan pengeluaran per kapita terbesar ketiga masyarakat Pontianak terhadap kelompok makanan adalah untuk rokok yaitu sebesar Rp 77.604, nilai ini naik dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 70.292.

Ahli Gizi Ungkap Sebab Pengeluaran Masyarakat Pontianak Terhadap Daging Rendah

Pada urutan berikutnya diikuti oleh pengeluaran per kapita terhadap padi-padian Rp 72.233, telur dan susu Rp 55.774, sayur-sayuran Rp 55.003, daging Rp 48.413, buah-buahan Rp 31.785, bumbu-bumbuan Rp 18.449, minyak dan lemak Rp 17.930, bahan minuman Rp 17.108, konsumsi lainnya Rp 16.839, kacang-kacangan Rp 12.107 serta umbi-umbian Rp 7.170.

Dari data itu, salah satu poin yang cukup mencengangkan adalah ternyata pengeluaran masyarakat Pontianak terhadap rokok lebih tinggi dibandingkan sumber protein seperti daging, telur, susu, sayur-sayuran dan buah-buahan.

Merespon hal itu, Ketua Persatuan Ahli Gizi Kota Pontianak, Herkulana Farida mengaku prihatin.

Ia menyebut hal ini akan berdampak terhadap kondisi kesehatan keluarga, utamanya bagi keluarga menengah ke bawah, pemenuhan gizi anak usia balita akan sulit terpenuhi.

"Terkait dengan rokok, ini sebetulnya juga cukup menarik, ternyata selain makanan, rata-rata pengeluaran untuk pembelian rokok juga cukup tinggi," ujarnya kepada Tribun, Kamis 25 Januari 2024.

"Ini terkadang juga menjadi keprihatinan kita, karena tentunya akan berdampak pada kondisi kesehatan keluarga terutama jika terjadi pada keluarga menengah ke bawah, banyak ditemukan kasus-kasus balita gizi kurang atau buruk, di mana rata-rata anggota keluarganya merokok," jelasnya.

"Pengeluaran untuk pmbelian pangan bergizi dalam keluarga menjadi berkurang karena harus dibagi dengan pengeluaran untuk rokok, akibatnya berdampak pada pemenuhan asupan gizi terutama pada kelompok usia balita," tambahnya.

Lanjutnya, Herkulana berharap masyarakat dapat membatasi diri agar tidak merokok.

Menurutnya yang demikian ini penting untuk kesehatan diri dan sekelilingnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved