Herzaky Minta Pemerintah Perhatikan Peserta Jambore Pramuka Dunia di Korsel, Menpora Beri Atensi
Dalam postingan tersebut, Herzaky Mahendra Putra menandai Presiden Jokowi, Menpora Dito Aritedjo hingga Gubernur Jabar, Ridwan Kamil.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Politisi asal Kalimantan Barat, Herzaky Mahendra Putra meminta agar pemerintah memberikan perhatian kepada peserta Jambore Pramuka Dunia di Korea Selatan (Korsel).
Permintaan itu diutarakan oleh pria yang juga Ketua Bakomstra Partai Demokrat ini melalui akun media sosial Instagramnyanya @herzakymahendra, Sabtu 5 Agustus 2023.
Dalam postingan tersebut, Herzaky Mahendra Putra menandai Presiden Jokowi, Menpora Dito Aritedjo hingga Gubernur Jabar, Ridwan Kamil.
Satu diantara anak Herzaky diketahui menjadi peserta dari Jambore Pramuka Dunia tersebut.
"Yth. Bapak Presiden@jokowi
Bapak Menpora@ditoariotedjo
Bapak Gubernur Jabar@ridwankamil
Saat melihat postingan Bapak2 terhormat melepas secara resmi kontingen Indonesia yang akan berangkat ke Jambore Pramuka Dunia di Korea Selatan beberapa waktu lalu, ada rasa bangga dan haru, karena anak kami merupakan salah satu peserta kontingen Indonesia.
Sayangnya, mimpi indah anak kami dan teman-temannya akan mendapatkan pengalaman berharga, sesi dan belajar budaya budaya dari berbagai negara di dunia, melatih kemandirian, meningkatkan kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi, melatih kecekatan dan ketangkasan, dan berbagai manfaat kegiatan pramuka lainnya, buyar ketika berada di lokasi Jambore Dunia ini.
• Ngopi Bareng Sobat Milenial Sambas, Herzaky Apresiasi Kepedulian Milenial Dalam Perubahan Negeri Ini
Bukan pengalaman hidup mandiri laiknya pramuka yang mereka dapatkan, melainkan pengalaman mirip-mirip bertahan hidup yang kami harapkan tidak akan seperti di film Escape Room di Netflix.
Untuk mendapatkan tambahan cairan dan nutrisi, harus berusaha sendiri, dengan berjalan kaki minimal 3 km ke convinience store yang jumlahnya hanya 5 untuk melayani 40rb lebih peserta.
Antriannya sangat panjang. Sudah kelaparan, kehausan, kecapekan, masih ditambah harus antri panjang sambil diterpa gelombang panas.
Banyak teman anak kami yang sudah tumbang. Tangis tiap malam terdengar terus di tenda-tenda teman-teman anak kami sambil menelpon ortunya. Bunyi ambulan juga menjadi sering terdengar.
Apalagi, tak sedikit yang dirawat di rumah sakit. Untuk buang air pun, harus berjalan kaki minimal 2 km pulang pergi di tengah terik panas 38-39 derajat.
Yang luar biasa, saat situasi ini disampaikan ke panitia dari Kwarnas yang ikut mendampingi di Korsel, mereka menyampaikan ke peserta ortu kalau situasinya baik-baik saja. Bukannya berusaha dengan jujur dan berusaha untuk memberikan solusi kesulitan kepada anak-anak peserta, mereka malah berusaha menutupi situasi sebenarnya.
Sangat berbeda dengan pemerintah Inggris yang telah mengambil tindakan cepat dan memindahkan 4rb kontingen Inggris ke hotel2 dari Seoul dan keluar dari situs Jambore Dunia ini.
Pemberitaan di media nasional pun sangat minim. Kami hanya bisa mendapatkan informasi dari anak-anak yang menjadi peserta secara langsung melalui video call dan berita-berita di berbagai media internasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/herzaky-mahendra-putramalam.jpg)