Pakai Ban Cacing Lebih Irit BBM Motor? Ini Penjelasannya
Menyarankan pengendara supaya tidak menggunakan ban cacing, apalagi untuk berkendara harian karena banyak risiko yang bisa terjadi.
Umumnya ada dua metode penambalan, yakni tambal ban cacing atau tambal ban tiptop.
Bicara mengenai kebocoran ban, apakah ada batas tambalan maksimum yang bisa diterima oleh ban motor dan apakah ban harus segera diganti jika sudah beberapa kali bocor?
Dodiyanto kembali mengatakan, sebenarnya tidak ada istilah tambalan maksimum untuk ban motor.
“Yang harus diperhatikan itu bukan berapa kali bocor, tapi di mana saja letak kebocorannya,” katanya.
Dia menjelaskan, ada titik lemah pada struktur ban yang tidak bisa ditambal, yaitu bagian sidewall atau sisi ban.
Jika bagian tersebut bocor atau berlubang, ban harus segera diganti. Hal lain yang harus diperhatikan pengendara adalah ukuran lubang penyebab bocor.
Jika lubang berukuran terlalu besar dan mustahil ditambal, ban juga harus diganti.
“Misalnya ban bocor bukan karena paku, tapi karena pelat besi. Itu kan bolongnya besar sekali dan mustahil ditambal,” terang Dodi.
Poin terakhir yang harus diperhatikan pengendara adalah jarak antar kebocoran.
Ban yang sudah dua kali bocor di titik yang berdekatan akan mengalami penurunan performa.
“Pastikan jarak antar kebocoran enggak kurang dari satu jengkal. Kalau kurang dari itu, efek tambalan tidak akan optimal dan kualitas ban sudah menurun. Sebaiknya ganti baru saja,” tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Ilutrasi-motor-matik-yang-menggunakan-ban-cacing.jpg)