Pakai Ban Cacing Lebih Irit BBM Motor? Ini Penjelasannya
Menyarankan pengendara supaya tidak menggunakan ban cacing, apalagi untuk berkendara harian karena banyak risiko yang bisa terjadi.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Memperkecil ukuran ban kerap dilakukan pengendara motor untuk mendapatkan tampilan nyentrik dan unik.
Karena selain bisa memberikan tampilan nyetrik, motor yang menggunakan ban cacing atau ban berukuran kecil disebut-sebut memiliki konsumsi BBM yang jauh lebih irit. Benarkah demikian?
Dodiyanto, Senior Brand Executive dan Product Development PT Gajah Tunggal menjelaskan, motor dengan ban cacing memang lebih irit BBM.
Tapi selisihnya hanya sedikit bila dibandingkan dengan ban standar.
“Kalau ditanya irit atau tidak, ya memang (ban cacing) lebih irit, tapi kalau dikompatasi dengan ban biasa, selisihnya enggak jauh berbeda,” kata dia.
• Ingin Baterai Pada Motor Listrik Anda Tidak Cepat Rusak, Ikuti 3 Saran Ini
Dodi menyarankan pengendara supaya tidak menggunakan ban cacing, apalagi untuk berkendara harian karena banyak risiko yang bisa terjadi.
“Tapak permukaan ban cacing itu enggak selebar ban standar, jadi cengkeramannya ke jalan pasti kurang. Ini berbahaya untuk penggunaan harian,” kata dia.
Sementara itu Anto Hananto, Kepala Bengkel AHASS 88 menambahkan, selain cengkeraman ban yang kurang.
Motor yang dilengkapi ban cacing juga berpotensi memiliki keseimbangan yang buruk.
“Pabrikan sudah mengukur dan menyesuaikan ukuran ban dengan dimensi motor. Kalau ban di step-down, motor bisa jadi enggak imbang,” kata Anto.
Walaupun ban cacing memiliki keunggulan tipis dari segi keiritan konsumsi BBM, pengendara tidak dianjurkan menggunakan ban jenis ini.
Karena banyaknya kekurangan di segi lainnya.
Batas Tambal Ban
Sementara itu, supaya kenyamanan dan keamanan selama berkendara selalu terjaga, kesehatan ban sepeda motor harus dijadikan pertimbangan utama.
Jika ban bocor, penanganan tepat yang bisa dilakukan pengendara adalah menambal ban.
• Jangan Biarkan Tekanan Udara Ban Motor Anda Tidak Sesuai Anjuran, Ini Akibatnya
Umumnya ada dua metode penambalan, yakni tambal ban cacing atau tambal ban tiptop.
Bicara mengenai kebocoran ban, apakah ada batas tambalan maksimum yang bisa diterima oleh ban motor dan apakah ban harus segera diganti jika sudah beberapa kali bocor?
Dodiyanto kembali mengatakan, sebenarnya tidak ada istilah tambalan maksimum untuk ban motor.
“Yang harus diperhatikan itu bukan berapa kali bocor, tapi di mana saja letak kebocorannya,” katanya.
Dia menjelaskan, ada titik lemah pada struktur ban yang tidak bisa ditambal, yaitu bagian sidewall atau sisi ban.
Jika bagian tersebut bocor atau berlubang, ban harus segera diganti. Hal lain yang harus diperhatikan pengendara adalah ukuran lubang penyebab bocor.
Jika lubang berukuran terlalu besar dan mustahil ditambal, ban juga harus diganti.
“Misalnya ban bocor bukan karena paku, tapi karena pelat besi. Itu kan bolongnya besar sekali dan mustahil ditambal,” terang Dodi.
Poin terakhir yang harus diperhatikan pengendara adalah jarak antar kebocoran.
Ban yang sudah dua kali bocor di titik yang berdekatan akan mengalami penurunan performa.
“Pastikan jarak antar kebocoran enggak kurang dari satu jengkal. Kalau kurang dari itu, efek tambalan tidak akan optimal dan kualitas ban sudah menurun. Sebaiknya ganti baru saja,” tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Ilutrasi-motor-matik-yang-menggunakan-ban-cacing.jpg)