Imlek dan Cap Go Meh

Awal Mula Warna Merah Hiasi Rumah Warga Setiap Imlek, Berawal Dari Kisah Binatang Buas Bersisik Ular

Adi menjelaskan pada umumnya membereskan rumah dan bersih-bersih rumah merupakan hal biasa, namun akan sedikit berbeda setelah bersih-bersih rumah ini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/FERLIANUS TEDI YAHYA
Sekertaris Panitia Cap Go Meh Pontianak, Adi Sucipto, SH saat ditemui diruangannya pada Sabtu, 14 Januari 2023. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, masyarakat tionghoa memiliki tradisi tersendiri yang cukup menarik untuk menjadi perhatian para wisatawan baik dari dalam dan luar negri.

Sekertaris Panitia Cap Go Meh Pontianak, Adi Sucipto mengatakan untuk tradisi menjelang perayaan Tahun Baru Imlek cukup banyak dan menjelaskan salah satunya yaitu adanya ornamen berwarna merah yang selalu menghiasi rumah jelang Tahun Baru Imlek.

“Sebenarnya untuk tradisi masyarakat tionghoa ini cukup banyak tapi saya akan coba jelaskan sedikit, asal-muasal kenapa ada hiasan berwarna merah,” jelasnya.

Adi menjelaskan pada umumnya membereskan rumah dan bersih-bersih rumah merupakan hal biasa, namun akan sedikit berbeda setelah bersih-bersih rumah ini nantinya akan dihiasi dengan ornamen berwarna merah, seperti lampion, tempelan, dan beberapa ornamen lainnya.

Jadwal dan Rangkaian Acara Kegiatan Cap Go Meh di Kota Pontianak Berlangsung Sepekan

“Kenapa berwarna merah?, ini sebenarnya memiliki cerita atau sejarah pada jaman dahulu yang berasal dari Tiongkok,” katanya.

Ia menjelaskan dulunya disebuah desa, menjelang Imlek akan ada malapetaka dimana desa tersebut selalu di datangi oleh binatang buas yang bersisik ular.

Binatang buas tersebut bernama Nian, dan selalu datang disebuah desa setiap tahunnya menjelang Imlek.

Binatang buas ini akan selalu memangsa siapa saja yang ada dihadapannya baik itu hewan peliharaan, anak-anak, maupun orang dewasa dan selalu merusak desa.

Kemudian, Adi menjelaskan suatu hari ada seorang kakek tua yang tiba di desa tersebut bingung, karena melihat para penghununi desa yang berbondong-bondong mengungsi.

“Kakek tua ini saat itu bisa dikatakan seperti dewa,” jelasnya.

Saat itu, kakek tua tersebut menawarkan diri untuk meminjam sebuah rumah milik warga, karena warga desa mengungsi jadi kakek tua ini sedirian di desa tersebut.

Ketua Panitia Cap Go Meh Pontianak Sebut Pihaknya Sudah Mendapatkan Izin Keramaian

Setelah diizinkan untuk menginap di rumah warga, kakek tua ini menghias rumah tersebut dengan sejumlah ornamen seperti lampion, kertas seperti tempelan dan itu semua berwarna merah, dan membakar beberapa bambu didepan rumah untuk menghasilkan suara “kretek-kretek” dari bambu tersebut.

Menjelang malam Tahun Baru Imlek tiba-tiba hewan buas bernama Nian ini datang menghampiri desa tersebut, dan menghancurkan semua rumah milik warga di desa tersebut.

Namun, saat tiba di sebuah rumah yang di tempati oleh kakek tua tersebut hewan buas ini tak berani menyentuh ataupun menghancurkannya, tak lama kemudian hewan buas tersebut pun menghilang dan tak pernah kembali lagi.

Kisah tersebut masih lestari hingga saat ini, sehingga menjelang perayaan Tahun Baru Imlek setiap rumah masyarakat tionghoa selalu dihiasi dengan ornamen berwarna merah.

“Saat ini warna merah tetap di teruskan namun ada modifikasi dengan tulisan kata HOKI (Keberuntungan) itu salah satunya,” tutupnya. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved