Lokal Populer

Inovasi Produk Olahan Sagu yang Dapat Tingkatkan Perekonomian Warga Sambas

Bagaimana dengan sagu kita bisa menjadikan sagu sebagai nilai ekonomi dan menjadi suatu kegiatan yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung

Penulis: Imam Maksum | Editor: Tri Pandito Wibowo
Istimewa
Staf Ahli Bupati Sambas Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fatma Aghitsni, S.TP., M.Si bersama sejumlah unsur Forkompimcam membuka festival sagu di Desa Sebangun, Kecamatan Sebawi, Sabtu 3 Desember 2022 kemarin 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kepala Desa Sebangun, Kecamatan sebawi, Kabupaten Sambas, Sarbini mengatakan Sagu dapat menjadi pembangkit nilai ekonomi masyarakat setempat dengan dijadikan beberapa olahan Sagu.

Salah satunya Desa Sebangun mulai berinovasi produk mie Sagu instan. 

"Kita tidak akan meninggalkan tradisi kita di desa yang sebagian besarnya adalah tanaman Sagu. Bagaimana dengan sagu kita bisa menjadikan sagu sebagai nilai ekonomi dan menjadi suatu kegiatan yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung," ujar Sarbini dalam keterangannya, Senin 5 Desember 2022.

Sarbini mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas terselenggaranya Festival Sagu. Kesuksesan festival ini tidak dapat dilepaskan dari bantuan stakeholder, dan donatur.

Merasa Dibohongi Pemda, Warga Kembali Tutup Jalan Kenukut Dedai

"Kegiatan Festival Sagu yang kedua kalinya ini merupakan kegiatan kolaborasi bekerja sama dengan stakeholder dari berbagai pihak karena, tanpa kolaborasi dari berbagai pihak mungkin kegiatan ini tidak akan terlaksana," ucap Sarbini. 

Festival Sagu di Sebawi, kata Sarbini, dikonsep sedemikian rupa dengan memanfaatkan seluruh komponen batang sagu, satu diantaranya adalah kulit sagu yang dijadikan karpet. 

"Kegiatan ini dikonsep seperti suasana tahun 90-an, karena hampir di setiap sudut dan perlengkapan ada saja yang terbuat dari sagu. Baik itu kulit sagu, seperti karpet yang ada di depan kita saat ini, jika biasanya ada karpet merah atau biru, di Festival Sagu terdapat karpet yang terbuat dari kulit sagu," katanya. 

Dia menuturkan sebanyak sembilan lomba dalam Festival Sagu 2022 juga berkaitan dengan kreasi sagu.

Adapun 9 lomba tersebut yaitu lomba melempeng sagu, lomba menggulingkan sagu, lomba tari kreasi, lomba kuliner tepung sagu, lomba kuliner umbut sagu.

"Kemudian lomba becacak di batang sagu, lomba sampan pelepah sagu, lomba buat atap daun sagu, dan lomba bekesah," imbuhnya. 

Dia mengatakan, sagu dapat menjadi pembangkit nilai ekonomi masyarakat setempat dengan dijadikan beberapa olahan sagu.

Salah satunya yang sudah menjadi OVOP Desa Sebangun ialah mie sagu instan. 

"Kita tidak akan meninggalkan tradisi kita di desa yang sebagian besarnya adalah tanaman sagu. Bagaimana dengan sagu kita bisa menjadikan sagu sebagai nilai ekonomi dan menjadi suatu kegiatan yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung," harapnya.

Dukungan Perekaman Video Hybrid Log Gamma pada Kamera Mirrorless Fujifilm X-T3

Kreasi Berbeda

Staf Ahli Bupati Sambas Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fatma Aghitsni mengatakan kedepannya Festival Sagu sebawi harus dikonsep dan dikreasikan dengan suasana yang berbeda.

Fatma menyarankan konsep selanjutnya dapat dilaksanakan di hutan Sagu dan di tepi sungai. Selain itu, dia mengajak masyarakat untuk tidak mengikuti budaya luar yang tidak sesuai dengan kebiasaan.

"Mari kita bangun Desa Sebangun dari akar budaya, karena itulah yang akan bertahan. Jangan pernah malu dengan budaya kita dan jangan sampai mengikut budaya lain yang sebenarnya tidak cocok untuk kita," ujar Fatma, Senin 5 Desember 2022.

Dia mengatakan, alangkah indahnya ketika Festival Sagu itu berada di hutan Sagu dan di tepi sungai, dari sana juga dapat menarik untuk wisata airnya, itu perlu dikembangkan. 

"Bagaimana melestarikan dan mempertahankan terutama sagu itu sendiri, jangan sampai tergerus oleh perkembangan zaman terutama oleh sawit. Desa-desa yang lain juga harus menyiapkan atau memproteksi lahan yang memang khusus untuk tanaman sagu dan tidak diganggu," tambahnya. 

Ia berharap kegiatan Festival Sagu selanjutnya berjalan dengan lancar dan bisa diteruskan di tahun-tahun berikutnya dan menjadi agenda tahunan Desa Sebangun. 

"Tentunya Desa Sebangun akan mempertahankan festival ini dan tidak hanya sampai 5 tahun, tapi harus berkelanjutan, itu sebenarnya konsep pariwisata. Kedepannya konsep pariwisata yang harus diterapkan itu selain sapta pesona adalah Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability (CHSE)," tutup Fatma.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved