Lokal Populer

dr Rubini Berperan Besar Membantu Kaum Wanita dan Melawan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada dr. Rubini menyusul empat nama tokoh lainnya pada tanggal 7 November 2022 lalu

Penulis: Muhammad Luthfi | Editor: Tri Pandito Wibowo
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Muhammad Luthfi
Gubernur Kalbar Sutarmidji saat menerima cinderamata, di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat, Kamis 10 November 2022. 

Yang mana pada masa itu, kasus kekerasan seksual kepada perempuan dan anak serta angka kematian ibu sangat besar terjadi di Kalbar.

Melihat data-data terkait dengan kejahatan yang dilakukan oleh penjajah di masa itu, dr. Rubini kemudian menyampaikannya kepada tokoh-tokoh yang ada di Kalimantan Barat, kemudian mengajak tokoh-tokoh Kalbar untuk melakukan perlawanan.

Namun, di tengah perjuangannya untuk menentang penjajah, dr Rubini bersama istrinya Amalia Rubini diculik dan dibunuh oleh Jepang bersama para cendikiawan Kalbar lainnya.

“Jadi Kowani melihat hal ini, bahwa seorang pria mendukung perempuan, membela perempuan, mendukung istrinya untuk menjadi aktivis melakukan kegiatan-kegiatan sosial dan juga melawan penjajah, dimana penjajah melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak,”

Dengan dianugrahkannya gelar pahlawan kepada dr Rubini, Kowani bersama ahli waris dr. Rubini mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua pihak terkait yang sudah ikut andil, khususnya dari Kalimantan Barat.

“Dari tingkat grassroot (akar rumput) sampai tingkat pimpinan pusat di Kalimantan Barat yang mendukung, dan alhamdulillah prosesnya sangat lancar tidak ada hambatan menjadikan dr Rubini sebagai pahlawan nasional,” katanya.

Cucu almarhum dr. Rubini, Bambang Wiyogo menuturkan, sehari setelah dr Rubini bersama istrinya diculik oleh Jepang.

Ibunya yang merupakan anak dari dr. Rubini langsung diungsikan oleh tantenya naik kapal untuk berangkat pulang ke Bandung.

Kala itu, ibu Wiyogo baru berusia 12 tahun, dengan adanya tragedi tragis tersebut, memberikan trauma mendalam kepada ibu Wiyogo.

Sehingga, ibunya tak pernah bercerita tentang apapun yang ada kaitannya dengan tragedi mengerikan yang menimpa dr. Rubini.

“Ibu saya pada saat itu usia 12 tahun ada di sini (Pontianak), begitu orang tuanya diculik, dia besok paginya diungsikan sama tante saya naik kapal ke Bandung, diungsikan dan diselamatkan oleh adik dr Rubini,” ungkapnya.

Karena terauma mendalam, ibu Wiyogo tak pernah sekalipun bercerita mengenai tragedi memilukan yang pernah menimpanya.

Untuk itu, Wiyogo bersama saudaranya yang lain sepakat untuk menggali history mendalam tentang perjuangan dr Rubini.

Dia berujar, kebetulan beberapa waktu lalu, dirinya sempat menjabat sebagai anggota DPR dan sudah empat kali melakukan kunjungan ke Mandor.

Dari hasil kunjungannya ke mandor, ada berbagai informasi yang mengisahkan tentang kisah heroik dr Rubini, bahkan Rumah Sakit sampai jalan diberi nama dr Rubini.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved