Lokal Populer

Kepala BPS Provinsi Kalbar Moh Wahyu Yulianto Ingatkan Waspadai Sumbangan Inflasi Tahunan

kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks dari yang tertinggi  yaitu kelompok transportasi sebesar 8,69 persen.

TRIBUNPONTIANAK/Maskartini
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Moh Wahyu Yulianto. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kota Singkawang mencatatkan inflasi 1,66 persen, angka tersebut tertinggi dibandingkan dengan Kota Sintang dan Kota Pontianak. 

Pantauan Tribunpontianak.co.id dari website bpskalbar Rabu 5 Oktober 2022, inflasi Kota Pontianak September 2022 di Kota Pontianak sebesar 1,58 persen, Sintang 1,37 persen.

Inflasi di Kota Pontianak September 2022 disebabkan kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks dari yang tertinggi  yaitu kelompok transportasi sebesar 8,69 persen.

Diikuti kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,10 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,60 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,41 persen.

Harapan Pembangunan Rumah Adat Tionghoa Berdampingan Rumah Adat Radakng Dayak dan Rumah Adat Melayu

Adapun tingkat inflasi tahun kalender (Januari–September) 2022 sebesar 5,31 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2022 terhadap September 2021) sebesar 5,43 persen.

Sementara di Kota Singkawang terjadi inflasi sebesar 1,66 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,91. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada 8 kelompok pengeluaran. 

Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks dari yang tertinggi yaitu kelompok transportasi sebesar 12,15 persen diikuti kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,26 persen dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,43 persen.

Adapun tingkat inflasi tahun kalender sampai dengan September 2022 sebesar 4,83 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2022 terhadap September 2021) sebesar 5,20 persen.

Sementara di Sintang terjadi inflasi sebesar 1,37 persen dikarenakan adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada enam kelompok pengeluaran. 

Kepala BPS Provinsi Kalbar, Moh Wahyu Yulianto mengatakan sumbangan inflasi tahunan perlu diwaspadai karena masih ada sisa waktu 3 bulan ke depan yaitu Oktober, November, dan Desember. 

Wahyu mengatakan ada beberapa komoditas penyumbang inflasi yang memang tidak bisa dihindari. Salah satunya kata Wahyu untuk komoditas makanan yaitu daging babi.

Berdasarkan informasi dari Disbunnak Kalbar ada wabah African Swine Fever (ASF) memberikan dampak, banyak sekali babi-babi yang meninggal kurang lebih 450 ribuan.

"Ini perlu juga menjadi perhatian, daging babi itu konsumsinya tinggi di Kota Singkawang.  Tentunya bagaimana langkah pemerintah sebagai antisipasi substitusi diganti dengan daging lain atau mengurangi. Karena memang konsumsi di Singkawang cukup tinggi dengan kenaikan 0,37 persen harganya, andil komoditas daging babi 0,36 persen. Inflasinya 1,66 persen, BBM saja sudah menyumbang 1 persen, satu daging babi saja sudah 0,36 persen tinggal 0,33 persen komoditas lain," ujarnya.

Kota Pontianak Dinilai Sudah Saatnya Terapkan Konsep Kota Pintar

Sumbangsih Inflasi

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved