Mahalnya Harga Rokok Tidak Berpengaruh Terhadap Kesejahteraan Petani Tembakau
cuaca yang tidak menentu membuat kualitas hasil jemuran tembakau menurun yang mengakibatkan rendahnya harga jual tembakau
"Tembakau itu cenderungnya bagusnya di cuaca kering, kena hujan juga kualitasnya menurun," kata Suyadi saat ditemui di kediamannya, Jumat 30 September 2022.
Pencabutan Subsidi Pupuk
Persoalan lain yang dihadapi petani adalah dicabutnya subsidi pupuk oleh pemerintah.
Petani tembakau di Temanggung biasanya menggunakan pupuk ZA, yang harganya saat disubsidi sebesar Rp 80 ribu.
• Safari Bantuan Sosial, Sutarmidji Kali Ini Serahkan Bansos ke Warga Teluk Pakedai
Ketika subsidi pupuk dicabut, harga pupuk bisa mencapai Rp 300.000.
Suyadi mengungkapkan, estimasi biaya produksi tembakau untuk 1 hektare (ha) sekitar Rp 60 juta dan akan menghasilkan 6-7 kuintal tembakau kering dengan kualitas bagus jika cuacanya mendukung.
"Artinya jika dikalkulasikan, Rp 60 juta dibagi 6-7 kuintal itu akan menghasilkan harga tembakau sekitar Rp 100 ribu, itu saja baru balik modal."
"Makanya para petani bisa meraih hasil panen yang layak jika harganya rata-rata di atas Rp 100 ribu," ujar Suyadi.
Wacana Kenaikan Cukai
Di tengah permasalahan tersebut, petani tembakau juga dihadapkan dengan wacana kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT).
Pemerintah menargetkan penerimaan total cukai 2023 sebesar Rp 245,45 triliun atau sekitar 10 persen dari total penerimaan APBN 2023.
Salah satu cara yang bakal diterapkan ialah dengan menyesuaikan tarif cukai rokok.
Suyadi pun menolak wacana pemerintah untuk menaikkan tarif CHT itu.
Menurutnya, hal itu akan berimbas kepada petani tembakau secara langsung.
"Ya kita keberatan, jika awalnya biaya prduksi 60 juta dengan kenaikan cukai bisa sampai 80 juta. Lebih naik lagi menambah biaya produksi," kata Suyadi.