Lokal Populer
Komoditas Beras Berpengaruh Besar Terhadap Inflasi di Kalbar
Florentinus mengatakan dalam rangka mengendalikan inflasi pangan adalah melalui pengawalan produksi dan pengembangan
Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Tri Pandito Wibowo
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Penyesuaian harga BBM sudah mulai berdampak terhadap fluktuatif beberapa harga komoditi pangan strategis yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat, masalah ini sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Florentinus Anum mengatakan komoditas pangan khususnya tanaman pangan dan hortikultura seperti beras, jagung, cabai, bawang dan sayur-sayuran merupakan komoditi strategis yang rentan menjadi penyumbang inflasi.
Florentinus mengatakan dalam rangka mengendalikan inflasi pangan adalah melalui pengawalan produksi dan pengembangan dalam rangka meningkatkan produksi pangan strategis agar ketersediaan bisa terjaga.
"Komoditas strategis yang perlu dijaga betul adalah beras, karena bobot komoditas beras berpengaruh besar terhadap inflasi. Untuk beras di Kalbar berdasarkan Sistem Informasi Penguatan Data Pangan Strategis (SI PDPS) sampai dengan akhir Agustus 2022 produksi kita sebesar 689.200 ton," ujarnya Rabu 28 September 2022.
• Dinas Ketahanan Pangan Sekadau Nilai Remediasi APKS KK Sejalan dengan Program IP3K
Sedangkan kebutuhan 5.466.942 jiwa penduduk Kalbar kata Florentinus sampai dengan Agustus 2022 adalah 342.364 ton beras, sehingga kita pada akhir Agustus 2022 masih surplus 346.893 ton beras.
"Surplus ini akan terus berlanjut sampai akhir Desember 2022, kita setiap bulannya masih akan surplus kurang lebih antara 280.000 ton sampai dengan 300.000 ton setiap bulannya. Untuk jagung setiap tahun rata-rata kita panen sebesar 40.000 Ha dengan produksi pipilan kering sebesar 220.000 ton PK dan hampir 50 persen produksi jagung kita Kalbar berasal dari Kabupaten Bengkayang," ujarnya.
Kebutuhan akan jagung pipilan kering (PK) didominasi oleh industri pakan ternak yaitu sebesar 319.910 ton PK atau 99,99 persen, sedangkan kebutuhan konsumsi masyarakat hanya 3.754 ton/tahun atau 0,01 persen.
"Kebutuhan akan jagung pipilan kering kita Kalimantan Barat rata-rata setiap tahunnya adalah 323.664 ton PK untuk konsumsi dan kebutuhan pakan. Sedangkan produksi kita setiap tahunnya baru mencapai rata-rata sebesar 220.000 ton PK, kita masih kekurangan kurang lebih 100.000 ton PK setiap tahunnya," ujarnya.
Penanaman Bawang Merah
Selain menyiapkan pengembangan pertanaman 70 hektare (Ha) cabai, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar juga mempersiapkan pengembangan pertanaman 40 ha bawang merah. Pertanaman akan tersebar di 7 kabupaten di Kalbar.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Florentinus Anum mengatakan upaya ini dalam rangka mempersiapkan lonjakan kebutuhan komoditi pangan strategis di akhir tahun desember 2022 pada saat momen hari besar keagamaan natal dan tahun baru (Nataru).
• Hetty Andika Perkasa Apresiasi Keberadaan UMKM Center di Pontianak
Komoditas pangan seperti bawang merupakan komoditi strategis yang rentan menjadi penyumbang inflasi.
Berdasarkan Sistem Penyajian Data Statistik Pertanian Hortikultura (Sipedas Hortikultura), sampai dengan Agustus 2022 produksi bawang merah di Kalbar sebesar 27 ton.
Kebutuhan Kalbar dengan jumlah penduduk 5.466.942 jiwa khusus rumah tangga untuk bawang merah sampai dengan Agustus yaitu 6.112 ton.
Komoditas Bawang Merah setiap tahunnya produksi kita rata-rata 120 ton per tahun.
"Produksi bawang merah kita setiap tahunnya rata-rata 120 ton, dengan kebutuhan rata-rata setahun sebesar 9.169 ton untuk konsumsi rumah tangga. Kemudian bawang merah kita di Kalbar memang sangat kurang, oleh karenanya untuk menjaga ketersediaan bawang merah, sementara ini kita mendatangkan dari luar Kalbar," ujarnya Rabu 28 September 2022.
Komoditas Cabai
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar mempersiapkan pengembangan pertanaman 70 ha cabai rawit dan 40 hektare (ha) bawang merah tersebar di 7 kabupaten, serta mempersiapkan cabai siap panen untuk kelompok masyarakat.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Florentinus Anum mengatakan upaya tersebut dilakukan dalam rangka mempersiapkan lonjakan kebutuhan komoditi pangan strategis di akhir tahun desember 2022 pada saat momen hari besar keagamaan natal dan tahun baru (Nataru).
Florentinus mengatakan komoditas strategis sub sektor Hortikultura yang rentan dan selalu memberikan dampak pada inflasi yaitu bawang merah, Cabai besar dan Cabai rawit.
Berdasarkan Sistem Penyajian Data Statistik Pertanian Hortikultura (Sipedas Hortikultura), sampai dengan Agustus 2022 produksi cabai rawit di Kalbar sebesar 3.967 ton.
Kebutuhan Kalbar dengan jumlah penduduk 5.466.942 jiwa khusus rumah tangga untuk cabai rawit sampai dengan Agustus yaitu 4.264 ton.
"Komoditas cabai rawit setiap tahunnya produksi kita rata-rata untuk cabai besar 1.800 ton per tahun dan cabai rawit 5.400 ton per tahun.
Dari sisi konsumsi yang banyak membutuhkan khususnya cabai rawit yaitu rumah makan, restoran, hotel-hotel, cafe, catering dan indsutri-industri pengelola seperti Indofood, sedangkan kebutuhan cabai rawit untuk Konsumsi Rumah Tangga (masyarakat) relatif kecil.
Pada saat ini luas lahan cabai rawit yang masih aktif berproduksi dan siap dipanen sepanjang akhir September, Oktober, November, Desember 2022 adalah 465 Ha, yang lokasinya menyebar di Kecamatan-Kecamatan, Kabupaten dan Kota di Kalbar, dengan perkiraan produksi di 3 bulan kedepan (Oktober-Desember) adalah 1.778 ton.
"Cabai bisa dipanen dua kali dalam seminggu dan berproduksi terus-menerus selama 6-8 bulan," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Dinas-Tanaman-Pangan-dan-Hortikultura-Provinsi-Kalba234rwe.jpg)