Rokok Sumbang Kemiskinan di Kalbar

Tingkat kemiskinan itu variabel komoditasnya diukur dari sisi konsumsi, dimana 2.200 kalori dari beras kemudian sayur-sayuran, telur

Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Nasaruddin
SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
Ilustrasi rokok yang dijual. Rokok menjadi satu di antara komoditi penyumbang kemiskinan di Kalimantan Barat. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Rokok menjadi satu dari lima komoditi yang menyumbang garis kemiskinan perkotaan di Kalimantan Barat.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Moh Wahyu Yulianto kepada Tribun Pontianak, Selasa 27 September 2022.

Wahyu Yulianto menjelaskan, pendekatan kemiskinan makro BPS itu konsumsi atau pengeluaran.

Baik konsumsi makanan dan non makanan.

Penghitungan Kemiskinan BPS Mengacu Pada Pendekatan Kebutuhan Dasar

"Tingkat kemiskinan itu variabel komoditasnya diukur dari sisi konsumsi, dimana 2.200 kalori dari beras kemudian sayur-sayuran, telur," katanya.

"Sementara ada komoditas rokok yang memang banyak dikonsumsi padahal itu tidak ada kalorinya. Padahal pengeluaran rokok itu tinggi," ujar Wahyu.

"Jadi keluar uang tapi tidak ada kontribusi untuk kalori," jelasnya.

BPS Kalbar Beberkan Lima Komoditi Berkontribusi Sumbang Kemiskinan di Perkotaan

Wahyu mengatakan, kalau dari pengeluaran rokok misalnya Rp 25.000 sehari atau Rp340.000 sebulan dialihkan untuk membeli beras dan telur, pasti akan menambah kalori bagi perokok dan keluarganya.

"Pengeluaran rokok besar. Padahal bisa dialihkan ke makanan ataupun yang non makanan, misalnya biaya pendidikan, kesehatan beli obat atau apa. Kalau beli rokok, sudah keluar uangnya tidak ada kalorinya. Ya tidak bisa mengangkat garis kemiskinan," ujarnya.

Selain rokok, komoditi lain yang memberi sumbangan besar terhadap garis kemiskinan perkotaan di Kalbar adalah beras, telur ayam ras, daging ayam ras dan mie instan.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved