BPS Kalbar Beberkan Lima Komoditi Berkontribusi Sumbang Kemiskinan di Perkotaan

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Moh Wahyu Yulianto menjelaskan adapun pendekatan kemiskinan makro BPS itu konsumsi

Penulis: Maskartini | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/Maskartini
Kepala BPS Kalbar, Moh Wahyu Yulianto. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Lima komoditi makanan yang memberi sumbangan besar terhadap garis kemiskinan perkotaan di Kalbar antara lain beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras dan mie instan. 

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Moh Wahyu Yulianto menjelaskan adapun pendekatan kemiskinan makro BPS itu konsumsi atau pengeluaran. 

"Baik konsumsi makanan dan non makanan. Untuk konsumsi makanan pendekatannya 2.150 kalori. Ada 52 komoditi, nah rokok ini tidak ada kalorinya, tapi banyak dikonsumsi. Jadi keluar uang tapi tidak ada kontribusi untuk kalori," jelasnya Selasa, 27 September 2022.

Tjhai Chui Mie Perintahkan Camat dan Lurah Dukung BPS dalam Mendata Warga Singkawang

Penghitungan kemiskinan BPS mengacu pada pendekatan kebutuhan dasar. Komponen kebutuhan dasar ini terdiri dari kebutuhan makanan dan bukan makanan yang disusun menurut daerah perkotaan dan perdesaan yang diambil dari hasil Susenas. 

Mulai tahun 1998 pendekatan kebutuhan dasar yang digunakan BPS telah disempurnakan, menjadi 52 jenis komoditi makanan dan 51 komoditi bukan makanan (perkotaan) dan 47 komoditi (perdesaan). 

Dengan pendekatan ini, kemiskinan merupakan ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran, yang kemudian batasan dari sisi pengeluaran inilah disebut sebagai garis kemiskinan.

Garis Kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan non makanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin.

Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

"Tingkat kemiskinan itu variabel komoditasnya diukur dari sisi konsumsi, dimana 2.200 kalori dari beras kemudian sayur-sayuran, telur. Sementara ada komoditas rokok yang memang banyak dikonsumsi padahal itu tidak ada kalorinya. Padahal pengeluaran rokok itu tinggi," ujar Wahyu.

Wahyu mengatakan kalau dari pengeluaran rokok misalnya Rp 25.000 sehari atau Rp340.000 sebulan, dialihkan untuk membeli beras dan telur pasti akan menambah kalori yang masuk perokok dan keluarganya.

"Pengeluaran rokok besar. Padahal bisa dialihkan ke makanan ataupun yang non makanan, misalnya biaya pendidikan, kesehatan beli obat atau apa. Kalau beli rokok, sudah keluar uangnya tidak ada kalorinya. Ya tidak bisa mengangkat garis kemiskinan," ujarnya.

Konsumsi kalori merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesejahteraan penduduk adalah dengan melihat tingkat kecukupan gizi, yang dihitung berdasarkan besar kalori dan protein yang dikonsumsi.

Garis Kemiskinan pada Maret 2022 adalah sebesar Rp520.660,- per kapita per bulan.

Dibandingkan September 2021, Garis Kemiskinan naik sebesar 3,05 persen. Sementara jika dibandingkan Maret 2021, terjadi kenaikan sebesar 7,70 persen.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved