Setuju BBM Naik! Satu di antara Pengusaha di Kalbar Nilai Subsidi Membuat Orang Manja pada Negara
Pemerintah memberi sinyal akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertalite dan Solar subsidi. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan harga BBM
Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengusaha Kalbar, Eko setuju dengan kenaikan harga BBM. Importir kedelai itu mengatakan kebijakan kenaikan BBM tidak bisa dihindari untuk menyelematkan APBN.
Pemerintah memberi sinyal akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertalite dan Solar subsidi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan harga BBM di Indonesia jauh di bawah keekonomian.
Jika menggunakan hitungan dolar AS di Rp 14.700 dan harga minyak 105 dolar AS, harusnya harga Solar Rp 13.950 per liter. Sementara harga Pertalite yang sekarang Rp 7.650/liter harusnya Rp 14.450/liter, jika menyesuaikan hitungan minyak dunia 105 dolar AS dan kurs Rp 14.700 per dolar AS.
• Tolak Kenaikan BBM 6 September 2022 Partai Buruh Akan Adakan Aksi Serentak di 34 Provinsi
"Menurut saya kalau kenaikan BBM terutama solar kita sebagai usahawan yang memakai bahan bakar solar untuk transportasi dan mengirimkan barang setuju. Menurut saya baik-baik saja. Untuk saya kenaikan ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari untuk mengamankan APBN kita," ujar Eko, Selasa 30 Agustus.
Ia mengatakan kenaikan sampai Rp5.000 per liter untuk angkutan dengan jarak sampai ke Nanga Pinoh ataupun Sintang.
"Untuk bahan bakar sampai Rp5.000 akan berdampak kenaikan biaya pengiriman sebesar Rp100 per kilogram," jelasnya.
Lebih lanjut, Eko mengatakan ia tidak mau negara bangkrut lantaran banyak memberikan subsidi.
"Saya tidak mau negara ini juga berakhir seperti negara-negara yang bangkrut. Karena terlalu banyak komposisi subsidi di dalam anggaran belanja terutama anggaran belanja yang habis untuk dimakan dan tidak terlihat," ungkapnya.
Subsidi menurut Eko, hanya membuat orang menjadi manja dan ketergantungan terhadap negara.
Ia berpandangan bahwa, masyarakat harus bersama-sama membantu meringankan beban APBN karena APBN dari masyarakat untuk masyarakat.
"Kenaikan dan perubahan harga Pertalite juga tidak begitu masalah karena untuk kalangan ekonomi yang memakai motor pemakainya juga tidak seberapa, tetapi dampak untuk negara dan anggaran belanja lebih sehat," tuturnya.
Bagi masyarakat yang menggunakan mobil kata Eko mungkin akan merasakan dampak lebih besar untuk kenaikan bahan bakar ini.
Tetapi semuanya akan menyesuaikan diri dengan penghematan di sektor lalu lintas. Apalagi pengguna mobil dianggap masyarakat mampu.
"Mungkin anak sekolah tidak perlu di antar dengan mobil jika tidak begitu penting, cukup memakan motor saja karena pemakaian motor akan bahan bakarnya lebih hemat daya dari pemakaian mobil," ujarnya.