Ekspor Kratom Menemui Titik Terang, Zulfydar Harap Pajak Tidak Membebani Distributor dan Petani

"Harapan kita juga pajak dibebankan pada pembeli dan tidak dibebankan pada petani dan distributor, namun dibebankan kepada pembeli," ujarnya.

Penulis: Maskartini | Editor: Try Juliansyah
TRIBUN PONTIANAK/ MASKARTINI
Zulfydar Zaidar Mochtar 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Indonesia menjadi produsen kratom terbesar yang diekspor ke Amerika Serikat. Saat ini pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan petani didorong menjajaki potensi ekspor kratom.

Kratom merupakan tanaman tropis dari famili Rubiaceae yang berasal dari Asia Tenggara (Thailand, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina), dan Papua Nugini. Di Indonesia, tanaman ini banyak tumbuh di Kalimantan Barat (Kalbar), Sumatera, sampai ke Sulawesi dan Papua di wilayah tertentu.

Kratom, di Indonesia belum banyak dimanfaatkan karena adanya benturan terkait regulasi bahkan sejumlah kalangan mengindikasikannya masuk dalam golongan narkotika.

KemenKopUKM punya rencana untuk mengembangkan kratom dan saat ini Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau (Koprabuh) sudah bekerja sama dengan petani kratom di Kalbar.

Upaya Penundaan Pelarangan Penggunaan dan Ekspor Kratom

Anggota DPRD Kota Pontianak Zulfydar Zaidar Mochtar mengatakan ia menyambut baik berkenaan dengan kerjasama asosiasi kratom AS dengan KSP terhadap tanaman kratom di Kalbar.

Baru-baru ini, Kantor Staf Presiden mengapresiasi kerja sama pengembangan kratom sebagai tanaman herbal komoditas ekspor, yang diinisiasi American-Indonesian Chamber of Commerce, American Kratom Association (AKA) dan Koprabuh.

"Berkenaan dengan kerjasama asosiasi AS dengan dengan KSP kita sangat menyambut baik. Pemerintah Kalbar juga mendorong kerja sama itu sendiri. Tentu kita berharap adanya kerjasama yang direncanakan, tata niaga tidak merugikan baik petani maupun distributor kratom," ujar Zulfidar, Kamis 11 Agustus 2022.

Kedua ia berharap bahwa Kalbar menjadi tempat pelabuhan ekspor agar menyumbang devisa negara. Pelabuhan ekspor ini kata dia penting karena merupakan bagian dari pada pendapatan negara. Apalagi dengan komoditas kratom yang bisa menyumbang devisa negara dengan potensi dan peluang yang ada.

"Harapan kita juga pajak dibebankan pada pembeli dan tidak dibebankan pada petani dan distributor, namun dibebankan kepada pembeli," ujarnya.

Lantaran kratom merupakan komoditas Kalbar ia mengatakan sangat merugikan jika tanaman tersebut di ekspor dari provinsi lain.

"Kita harapkan dengan kerja sama KSP pelabuhan ekspor melalui Kalbar. Kaitannya dengan devisa tentu ada pajak negara harapan Zulfidar tidak dibebankan kepada para petani atau distributor namun kepada pembeli," ujarnya.

Ketiga Zulfydar berharap kerja sama ini dapat mengendalikan stabilitas harga.

"Jadi harga itu stabil dengan patok ada sama yang telah disepakati. Jangan sampai petani dan distributor dirugikan karena banyaknya pintu-pintu masuk dari pada para distributor yang mengakibatkan harga semakin lama harganya semakin rendah," ujarnya.

Untuk itu kata Zulfidar maka diperlukan tata niaga yang diatur di internal. Ia juga berharap tujuan ekspor tidak hanya ke negara AS.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved