Pesona Kalbar Hijau Nilai Produk Hijau Miliki Pangsa Besar Menembus Pasar Global
Jalan Pesona Kalbar Hijau (PKH) untuk memperjuangkan produk ekonomi hijau menjangkau pasar dunia semakin terbuka. Hasil dari proses seleksi beberapa
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK Ekonomi hijau dengan pengembangan potensi produk desa hutan bukan kayu menjadi salah satu fokus pengembangan produk hutan Kalimantan ke depan. Harapannya berbagai produk dari desa ini juga bisa tembus ke pasar dunia.
Baru-baru ini, beberapa produk desapun dipersentasikan PKH di Jakarta. Asanya, produk-produk ini bisa menjangkau pasar yang makin luas
Jalan Pesona Kalbar Hijau (PKH) untuk memperjuangkan produk ekonomi hijau menjangkau pasar dunia semakin terbuka. Hasil dari proses seleksi beberapa lembaga PKH untuk program SUPA pengelolaan lahan gambut terpantau baik.
Beberapa waktu yang lalu perwakilan PKH diberikan panggung buat mempersentasikan beragam produk hijaunya pada People For Peat (PFP) dan beberapa pihak panelist calon institusi finansial, donor dan mitra jejaring di Jakarta.
• Latih Peningkatan Kapasitas SDM Pariwisata dan Ekraf, Disporapar Kota Pontianak Sasar 18 Pokdarwis
Produk hijau tersebut produk alam hutan bukan kayu yang berasal dari beberapa desa. Dengan dikemas secara menarik, produk-produk tersebut kinipun miliki pangsa pasar tersendiri.
Founder PKH Dede Purwansyah mengatakan sudah tiga tahun ini, ia beserta rekan mencoba mengembangkan produk hijau hasil hutan.
Produk-produk tersebut berasal dari beberapa daerah di Kabupaten Kubu Raya. Madu mangrove, kelulut, kopi gambut, bajakah dan gula semut beberapa diantara produk hijaunya.
Produk hasil olahan petani dan pemuar madu dari desa-desa itu, diolah menjadi produk yang tak kalah saing dengan produk sejenis dengan produksi pabrikan.
Selain pengemasan produk, perizinannya juga diurus dengan legal. Sehingga ketika produknya masuk pasar besar dapat lolos sama seperti produk pabrikan.
Pelan-pelan, dalam berpromosi produk hijau desa, ternyata miliki pangsa pasar tersendiri. Produk tersebut diterima masyarakat. Pangsa pasarnya bahkan tak hanya Kalbar. Namun merambah ke Pulau Jawa dan beberapa negara tetangga.
"Untuk suplai madu ke Jakarta 60 kilo pasti. Begitu juga dengan Surabaya, dan beberapa daerah lain. Untuk Singapura kami juga sudah miliki pelanggan tetap," ungkapnya.
Dirinya yakin, produk ini berpotensi untuk menghasilkan keuntungan besar dikemudian hari. Mudah-mudahan, hasil persentasi ini dapat menjadi nilai plus sehingga pihak luar mau bekerjasama dalam pengembangan produk hijau di Kalbar. (*)
Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News