Lion Air Group Pontianak Sebut Punya Alasan Jual Tiket Pesawat dari Ketapang Diatas Harga Batas Atas

Pemerintah diakui Bire, memang sudah menerapkan biaya tambahan atau fuel surcharge untuk tiket pesawat sejak terjadi kenaikan harga avtur di dunia.

Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Hamdan Darsani
KOLASE / TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
Pesawat Lion Air - Distrik manager Lion Air Group Pontianak, Bire menjelaskan pihaknya punya alasan kuat menjual tiket diatas harga batas atas. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kenaikan harga tiket pesawat kerap dikeluhkan masyarakat Kalbar tiga bulan terakhir. Puncaknya PT Wings Abadi Ketapang dilaporkan Kepala Bandara Rahadi Oesman Ketapang, Amran ke Otoritas Bandar Udara Wilayah 1 Soekarno Hatta.

Laporan tersebut terkait harga tiket pesawat yang dijual maskapai Wings Air tersebut melebihi harga batas atas yang sudah ditetapkan.

Menanggapi laporan tersebut, Distrik manager Lion Air Group Pontianak, Bire menjelaskan pihaknya punya alasan kuat menjual tiket diatas harga batas atas.

Pemerintah diakui Bire, memang sudah menerapkan biaya tambahan atau fuel surcharge untuk tiket pesawat sejak terjadi kenaikan harga avtur di dunia belakangan ini.

TP2DD Kota Pontianak Dorong Pertumbuhan Digitalisasi Transaksi Daerah

Namun sebagai propeler (baling-baling) yang melayani penerbangan Ketapang, Sintang dan Putussibau pihaknya harus menyesuaikan operasional sehingga perusahaan tidak merugi.

"Sekarang propeler mana yang mampu bertahan beroperasi di Ketapang Sintang Putussibau. Jadi bukan mentang-mentang kami satu-satunya jadi seenaknya menaikkan, enggak ini semata-mata biaya operasional yang terlalu besar. Jadi bukan memonopoli pasar karena tidak ada pesawat lain, kami bukan karena semena-mena menaikkan dengan harga di atas batas atas yang ditentukan," jelasnya saat dihubungi Tribunpontianak.co.id, Selasa 5 Juli 2022.

Saat ini kata Bire, pihaknya di pusat sedang melakukan pembicaraan ke Kementerian Perhubungan terkait laporan ini.

"Ya, jika memang avtur naik terus disesuaikan lah harga tiket. Kemarin sudah keluar tarif dari Kementerian Perhubungan naik 20 persen untuk penyesuaian kenaikan avtur, nah kami minta naikkanlah 30 persen biar kami menyesuaikan sehingga kami tidak melanggar batas atas itu," jelasnya.

Kenaikan 20 persen sebagai penyesuaian kenaikan avtur kata Bire, untuk Lion Air dan Batik Air memang masih bisa namun untuk propeller biaya operasionalnya terlalu besar. 

"Dari kenaikan avtur yang sudah mengalami kenaikan berkali-kali pengaruhnya 10 persen, sekarang Kementerian Perhubungan sudah menyesuaikan 20 persen fuel surcharge tapi belum nutup," ujarnya.

Pilihannya kata Bire, hanya dua apabila Lion tetap dilaporkan tidak dibenarkan lagi untuk operasi maka mau tidak mau Lion mundur.

"Kami nggak sanggup untuk terbang. Untuk baling-baling biaya fuel itu lebih banyak, karena di bawah awan sehingga lebih banyak memakan fuel. Pak boyman sudah telepon, saya bilang saya minta ampun kalau memang kami diminta untuk mengikuti harga tersebut kami akan mundur untuk penerbangan Ketapang, Sintang, dan Putussibau. ini tidak sanggup operasionalnya," ujarnya. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved