Ngampun, Ritual Tolak Bala Penutup Gawa' Dari Masyarakat Adat Dayak Iban Menua Kapuas Hulu

Ketua Badan Pelaksana Harian AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) Kapuas Hulu, Herkulanus Sutomo Manna menyampaikan bahwa Ngampun dapat diterjemah

Penulis: Ferryanto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Warga Desa Kumang Jaya Kecamatan Empanang, saat melakukan ritual adat ngampung atau tolak bala untuk mengusir Covid-19 di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, Selasa (1/9/2020). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Setelah melaksanakan perayaan Gawa atau yang biasa dikenal dengan Gawai, yang bermakna pesta panen, masyarakat adat Dayak Iban Menua, di Sungai Utik, Kabupaten Kapuas Hulu melaksanakan ritual Ngampun.

Ritual Ngampun Masyarakat Adat Dayak Iban Menua dilaksanakan pada Sabtu 11 Juni 2022 hingga minggu 12 Juni 2022.

Ritual Ngampun sendiri merupakan bagian dari perayaan Gawa', dimana ritual Ngampun merupakan ritual penutup perayaan Gawa' bagi komunitas masyarakat adat dayak Iban Menua di Sungai Utik.

Ketua Badan Pelaksana Harian AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) Kapuas Hulu, Herkulanus Sutomo Manna menyampaikan bahwa Ngampun dapat diterjemahkan sebagai ritual tolak bala dalam adat Dayak Iban, sekaligus sebagai rangkaian ritual untuk mengembalikan keseimbangan kosmis dalam satu komunitas, dengan menghantarkan kembali roh para leluhur dan Orang Panggau (Orang Khayangan) kembali ke dunianya.

Ia menjelaskan, ritual Ngampun juga sebagai langkah untuk membersihkan kampung dari berbagai hal yang tidak tampak (roh para leluhur) dan untuk kembali menyeimbangkan energi yang ada di dalam kampung setelah dikunjungi tamu dari berbagai tempat dengan energi mereka masing- masing.

Paolus Hadi Hadiri Ritual Tolak Bala Paguyuban Jawa di Kabupaten Sanggau

Dalam perayaan Gawa’ ini dilakukan rangkaian ritual baik untuk seisi rumah panjang maupun ritual pribadi bagi setiap bilik.

"Saat perayaan Gawa’, jiwa para leluhur dipanggil untuk ikut hadir dan merayakan pesta syukur melalui sesajian (pedara’) dan tabuhan gendang yang meriah pada malam sebelum Gawa’. Roh baik maupun roh jahat semua diundang untuk hadir dan merayakannya bersama,''tutur Herkulanus Sutomo Manna, Senin 13 Juni 2022.

Saat perayaan selesai, roh para leluhur dan Orang Panggau (Orang Khayangan) yang diundang dan turut hadir selama perayaan Gawa’ berlangsung akan dihantar pulang melalui rangkaian ritual Ngampun tersebut.

"untuk Rangkaian ritual dipimpin oleh Tuai Rumah, ketua rumah panjang, pada sore hari dan diawali dengan penjelasan aturan dan garis besar ritual. Kemudian kampung akan ditutup dengan memasang palang dan pengumunan di gerbang masuk sejak pukul 18.00 malam hingga pukul 06.00 pagi, Dalam kurun waktu tersebut tidak boleh ada yang keluar masuk kampung,''ujarnya menjelaskan.

Seluruh anggota komunitas akan masuk kedalam biliknya, tidak ada yang boleh turun dari rumah, bagi yang melanggar aturan maka akan dikenakan sanksi adat yang berat.

Suasana kemudian akan menjadi sunyi senyap, selama suasana senyap inilah kampung akan menjalani “pembersihan” sebelum memulai kehidupan baru keesokan harinya.

Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat, Sjamsul Hadi, mengataka melalui ritual Ngampun ini menjadi simbolisasi semangat pertemuan G20 pada tahun ini, yaitu “Bersama-sama pulih, untuk menjadi lebih kuat”tuturnya. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved