Sarapan Bubur Ayam Tegal di Kawasan Jalan Sei Raya Dalam Khas Maulana
Setelah beberapa menit duduk termenung, aku baru menyadari ternyata aku merasa sangat lapar, tidak seperti biasanya.
Penulis: Muhammad Luthfi | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dibangunkan oleh alarm rutin yang kupasang setiap pagi, dan dibarengi suara rintik gerimis hujan, yang terdengar cukup menyenangkan pada Sabtu pagi hari itu.
Tidak seperti biasanya, aku merasa pada pagi hari ini ada yang berbeda. Setelah beberapa menit duduk termenung, aku baru menyadari ternyata aku merasa sangat lapar, tidak seperti biasanya.
Oo, ternyata lapar, gumamku dalam hati. Daripada gelisah karena kelaparan ini, aku segera bergegas berdiri dari tempat duduk nyaman tiada tara ini untuk mencari sarapan pagi.
Untungnya, rumah tempatku tinggal cukup ramai penduduk, dan juga banyak penjual sarapan di daerah dekat rumahku, seperti penjual nasi kuning, bubur, sate dan sebagainya.
• Resep Bubur Sumsum Sederhana untuk Kudapan Berbuka Puasa
Bergegas menghidupkan motor matic kesayangan yang joknya penuh dengan cakaran kucing. Aku mulai mencari sarapan di tengah gelapnya langit dan sedikit rintik hujan.
Tidak jauh dari depan komplek tempat ku tinggal, tampak dua wanita duduk berhadapan di bawah tenda empat tiang sambil memegang sendok, dan di depannya terlihat seorang pria yang sedang sibuk menuangkan sesuatu kedalam mangkuk.
Kucoba dekati, dan ternyata itu adalah kedai penjual bubur ayam tegal. Tidak berpikir panjang, langsung saja kuparkirkan motor ini, dan bergegas untuk memesan satu porsi bubur ayam tegal itu.
Tidak menunggu lama, bubur pesananku langsung tersedia. Tampak nyaman bubur ayam tegal yang disuguhkan di depan ku ini, diatas bubur itu tampak kacang, daun bawang, ayam suir, dan disediakan juga kerupuk yang dipisah.
Tunggu tunggu, ada yang berbeda dari bubur ini. Betul saja dugaanku, kuahnya tidak ada.
Ku coba sedikit memperhatikan meja tempat bubur pesananku disajikan. Tampak satu botol hijau yang isinya kuah bunur pada umumnya. Ternyata terpisah kuah dan buburnya, pikirku dalam hati.
Sadar botol itu berisikan kuah, langsung saja ku tuangkan sesuai dengan selera. Tidak terlalu banyak, dan kurasa ini sudah cukup pas.
Di suapan pertama, wow ini sangat enak. Sambil mengecap kuah dan bubur yang sudah ku aduk jadi satu, bisa disimpulkan, menu ini adalah sarapan paling tepat untuk ku santap pada pagi hari ini.
Menyantap bubur sembari melihat rintik hujan, memang tiada duanya. Dari segi cita rasa, gurihnya kuah dan renyahnya kacang sangat pas di lidahku.
Setelah, selesai menyantap semuanya. untuk mengisi rasa penasaran mengala kuahnya terpisah, aku bertanya kepada penjual yang mengenalkan diri dengan nama Maulana.
“Itu biar rasanya tidak berubah, jadi kalau kuahnya langsung dicampurkan rasanya biasanya berubah,” ujar Maulana, Sabtu, 11 Juni 2022.