Jelang Idul Adha, Penjualan Sapi di Sintang Merosot Tajam

"Biasa satu minggu abis idul Fitri tu udah banyak yang pesan. Tahun ini baru sekitar 10 ekor. Tahun lalu bisa sampai 53 ekor," ungkap Ferry.

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/AGUS PUJIANTO
Petugas bidang peternakan dan kesehatan hewan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah hewan ternak di sekitaran mengkurai, Kecamatan Sintang, Kalimantan Barat. Pemeriksaan hewan ternak dilakukan sebagai langkah antisipasi sekaligus pencegahan dari masuknya penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak seperti kambing, sapi, babi, kerbau serta domba. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Merebaknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak berdampak pada omzet penjualan sapi di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Meski kasusnya belum ditemukan, para peternak sudah merasakan imbas penjualan sapi merosot tajam.

Peternak sapi tak dapat berbuat banyak. Mereka hanya bisa pasrah dengan kondisi penjualan merosot tajam, ditambah kenaikan harga sapi naik tingkat lokal lantaran tidak bisa mendatangkan dari luar sintang akibat kekhawatiran akan virus PMK yang menyerang hewan ternak.

Kondisi inilah yang dirasakan Ferry Fadli, peternak sapi di Mensiku, Kecamatan Binjai Hulu, Kabupaten Sintang.

"10 ekor sapi baru keluar (terjual). Jauh dari tahun lalu," kata Ferry, Selasa 7 Juni 2022.

Penjualan sapi sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Biasanya, satu minggu setelah hari raya Idul Fitri, sudah banyak masyarakat yang pesan hewan qurban pada hari Raya Idul Adha.

"Biasa satu minggu abis idul Fitri tu udah banyak yang pesan. Tahun ini baru sekitar 10 ekor. Tahun lalu bisa sampai 53 ekor," ungkap Ferry.

Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak di sejumlah daerah termasuk Kalimantan Barat, membuat Ferry ketar-ketir. Meski belum ditemukan kasus di Sintang, peternak memilih hati-hati dan sementara waktu tidak mengambil sapi dari luar Sintang.

Ferry masih menunggu kondisi penyakit PMK benar-benar dapat dikendalikan baru berani mengambil sapi dari luar sintang.

Ferry memilih berhati-hati demi mengantisipasi kerugian yang akan timbul jika mendatangkan sapi dari luar sintang.

Apa itu PMK Sapi , Kambing dan Domba ? Ketahui Penyebab PMK dan Cara Penularan PMK

"Tahun ini sapi makin naik harganya gara-gara kita ndak bisa ngambil sapi dari luar. Soalnya kita ngambil sapi kan terbatas jak. (Daerah yang sudah ada kasus PMK) kita dilarang ngambilnya," ujar Ferry.

Medik Veteriner pada Bidang Peternakan di Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang, Widodo juga mengkhawatirkan dampak PMK pada peternak. Pada Idul Adha tahun 2021 ada 683 ekor sapi yang dipotong.

"Ini kemungkinan nanti kita akan kesulitan kalau sekiranya PMK sudah menyebar sampai ke sintang kita otomatis tidak ada ternak masuk, pasti dilarang ternak dari luar masuk sintang, pasti akan berpengaruh," ujar Widodo.

Hasil Uji Sampel Belum Keluar

Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap hewan ternak yang dikirim ke Balai Veteriner Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Hingga saat ini, hasilnya belum keluar.

"Hasilnya belum keluar. Sampel darah kemarin kita kirim ke Bbvet Banjarbaru, Kalsel," kata Viktor Fernandes Medik Veteriner pada Bidang Peternakan di Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang, Senin 6 Juni 2022.

Pada 23 Mei 2022 lalu, petugas bidang peternakan dan kesehatan hewan mengambil sampel darah pada dua ekor kambing sebagai upaya pencegahan penyakit mulut dan kuku.

Hewan ternak yang diambil sampel tersebut terserang demam.

Menurut Viktor, salah satu pencegahan PMk yang paling efektif yaitu dengan vaksin. Hanya saja, sejak indonesia dinyatakan bebas PMK pada dekade 90-an, vaksin tersebut sudah tidak tersedia.

"Salah satu pencegahan yang paling efektif itu vaksin, tidak seperti ASF yang babi (belum ada vaksin). Untungnya di PMK sudah ada vaksinnya, cuma karena kita sudah lama tahun 90 dinyataan bebas PMK di indonesia vaksin tidak tersedia. Jadi perlu waktu untuk impor atau produksi sendiri. Kita berharap itu segera cepat, sehingga upaya pencegahan maksimal di sintang bisa dilaksanakan," kata Viktor. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved