Tradisi Mudik, Napak Tilas Diri dan Kehidupan
Patut kita bersyukur, karena tahun ini, tradisi mudik ini bisa berjalan normal sebagaimana sebelum adanya pandemi covid-19.
Penulis: Faisal Ilham Muzaqi | Editor: Hamdan Darsani
oleh Prof. Dr. Ibrahim
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Mudik, terminologi budaya yang viral di media pekan ini. Bahkan akan terus viral untuk waktu seminggu kedepan ini.
Bagaimana tidak, tradisi mudik telah menyita banyak hal di tengah situasi bangsa ini, yang mulai pulih dari pandemi. Maklum saja, sejak dua tahun terkahir, tradisi mudik sangat dibatas dikarenakan kasus pandemi covid-19.
Patut kita bersyukur, karena tahun ini, tradisi mudik ini bisa berjalan normal sebagaimana sebelum adanya pandemi covid-19.
Sebagaimana hal tersebut, disampaikan oleh Guru Besar Ilmu Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Pontianak, Prof.Dr.Ibrahim, MA pada Kamis 28 April 2022.
• Sekda Kapuas Hulu Minta Seluruh ASN yang Mudik Saat Libur Idul Fitri Tetap Taat Protokol Kesehatan
Ia menyampaikan, untuk tradisi yang mulai viral ini, hamir semua perhatian ditujukan pada aktivitas tradisi mudik ini, mulai dari berita media, kesediaan transportasi, jaminan keamanan di perjalanan, hingga berita-berita media terkait ruas jalan yang mengalami kemacetan, dan sebagainya.
Sebagaimana mudik merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia. Menurutnya, mudik merupakan kebiasan yang dilakukan dengan cara pulang (kembali) ke kampung halaman asal (atau tempat dimana kita dilahirkan) untuk bersilaturahmi bersama keluarga besar, berkumpul bersama merayakan hari raya idul fitri.
[Update Informasi Seputar Kota Pontianak]
Sebagai sebuah tradisi, mudik menjadi suatu kebiasaan (budaya) masyarakat Indonesia pada setiap tahunnya, terutama dalam momen-momen special seperti pada perayaan lebaran idul fitri ini.
Berikut penuturan lengkapnya:
Dengan tradisi mudik, masyarakat kita dapat menyambung tali silaturrahim antar anggota keluarga. Yang tadinya harus terpisah tempat karena alasan pekerjaan, berkeluarga atau apapun. Tapi dengan tradisi mudik ini, kita bisa bertemu kembali, bersilaturrahim dan berkumpul bersama sanak keluarga di kampung halaman, tempat asal kita semua dilahirkan.
Selain sebagai momentum merawat silaturahim keuarga, mudik juga seringkali menjadi kesempatan untuk saling berbagi antar keluarga dan sanak saudara.
Apaun bentuknya, mudik memiliki nilai komunikasi sosial dan silaturrahim yang sangat penting dalam masyarakat kita, Indonesia. Mudik bukan saja mampu mempertemukan sanak saudara dan keluarga yang sudah terpisah lama dan jauh karena berbagai tuntutan kehidupannya, mudik juga mengajarkan pentingnya mengenang perjalanan hidup diri dan keluarga dalam bentuk napak tilas diri dan kehidupan.
Bahwa kehidupan kita hari ini sebagai orang kota, dengan prestasi hidup dan harta yang kita punyai, sesungguhnya adalah bagian dari sejarah panjang hidup yang pernah kita torehkan. Salah satunya adalah keluarga dan masyarakat di kampung yang dulu ikut membentuk dan mempengaruhi sebagian usia kita.
Jika hari ini sebagian kita mendapatkan kesuksesan hidup dan karir, ketahuilah bahwa keluarga, saudara dan teman sepermainan kita di kampung adalah bagian yang tak terpisahkan, dan juga ikut membentuk diri kita hari ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Guru-Besar-Ilmu-Komunikasi-Penyiaran.jpg)