22 Daftar Negara yang Bikin Putin Marah Besar ! Amerika Serikat dan Negara Bagian Uni Eropa Masuk
Cek 22 negara yang membuat Presiden Rusia Vladimir Putin marah besar sehingga mengeluarkan daftar negara .............................................
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Cek 22 negara yang membuat Presiden Rusia Vladimir Putin marah besar sehingga mengeluarkan daftar negara tidak bersahabat dengan Rusia.
Seperti diketahui, operasi militer Rusia terhadap Ukraina membuat beberapa negara memberi sanksi pada Rusia.
Hal tersebut menjadi salah satu ancaman bagi Rusia.
Dilansir laman Tass, kantor berita Rusia, Senin 7 Maret 2022, Pemerintah Federasi Rusia pada hari Senin menyetujui daftar negara bagian dan teritori asing yang melakukan tindakan tidak bersahabat terhadap Rusia, perusahaannya, dan warganya.
Rusia memberikan balasan dengan mengeluarkan daftar resmi negara-negara tidak bersahabat versinya.
(Update berita nasional, internasional dan regional menarik lainnya disini)
• Xi Jinping Buka Suara Soal Rusia dan Ukraina Setelah Pilih Abstain di Resolusi PBB
Daftar 22 negara tak bersahabat Rusia
Daftar tersebut mencakup, yakni:
- Amerika Serikat
- Kanada,
- Negara bagian Uni Eropa
- Inggris (termasuk Jersey, Anguilla, Kepulauan Virgin Britania Raya, Gibraltar).
- Ukraina
- Montenegro
- Swiss
- Albania
- Andorra
- Islandia
- Liechtenstein
- Monako
- Norwegia
- San Marino
- Makedonia Utara
- Jepang
- Korea Selatan
- Australia
- Mikronesia
- Selandia Baru
- Singapura,
- Taiwan (dianggap sebagai wilayah China, tetapi diperintah oleh pemerintahannya sendiri sejak 1949).
Negara dan wilayah yang disebutkan dalam daftar tersebut memberlakukan atau bergabung dengan sanksi terhadap Rusia setelah dimulainya operasi militer khusus Angkatan Bersenjata Rusia di Ukraina.
• Apa itu Resimen Azov Ukraina yang Diperangi Rusia ?
Konsekuensi negara-negara tersebut
Dilansir dari Newsweek, Senin (7/3/2022), akibat dari dikeluarkannya daftar tersebut, transaksi bisnis di Rusia yang melibatkan negara-negara itu sekarang akan memerlukan otorisasi khusus dari komisi pemerintah Rusia.
Komisi pemerintah Rusia yang dimaksud adalah Komisi Pengendalian Investasi Asing yang didirikan oleh Kremlin pada 2008 untuk memantau investasi asing di sektor-sektor strategis.
Dekrit tersebut menyatakan bahwa warga negara dan perusahaan Rusia, negara bagian itu sendiri, wilayah dan kotamadyanya yang memiliki kewajiban valuta asing kepada kreditur asing dari mereka yang ada dalam daftar akan dapat membayarnya dalam rubel.
Dilansir Anadolu Agency, Senin (7/3/2022), untuk itu, debitur dapat meminta bank Rusia untuk membuat akun rubel khusus "C" atas nama kreditur asing dan mentransfer pembayaran ke dalamnya dalam setara rubel dengan nilai tukar bank sentral pada hari pembayaran.
Pesanan baru bersifat sementara dan berlaku untuk pembayaran melebihi 10 juta rubel (sekitar $72.202).
Perang Rusia di Ukraina telah disambut dengan kemarahan dari komunitas internasional, dengan Uni Eropa, Inggris, dan AS, antara lain, memberlakukan berbagai sanksi ekonomi di Moskow.
• Chelsea Kena Dampak Pembekuan Aset Abramovich oleh Pemerintah Inggris Akibat Perang Rusia Ukraina
Ratusan warga sipil tewas
Setidaknya 364 warga sipil telah tewas dan 759 lainnya terluka di Ukraina sejak Rusia melancarkan perang melawan negara Eropa Timur pada 24 Februari, menurut angka PBB, dengan jumlah korban sebenarnya dikhawatirkan akan lebih tinggi.
Lebih dari 1,7 juta orang telah meninggalkan Ukraina ke negara-negara tetangga, menurut badan pengungsi PBB.
Sebelumnya diberitakan Rusia mengatakan pada Ukraina bahwa pihaknya siap untuk menghentikan operasi militer "dalam sekejap" jika Kyiv memenuhi daftar persyaratan.
Disampaikan Senin, (7/3/2022), Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov membeberkan, berbagai hal yang menjadi tuntutan Rusia terhadap Ukraina untuk bisa dipenuhi, yaitu:
- Ukraina menghentikan aksi militer
- Mengubah konstitusinya untuk mengabadikan netralitas
- Mengakui Crimea sebagai wilayah Rusia
- Mengakui republik separatis Donetsk dan Luhansk sebagai negara merdeka
Pernyataan itu bisa jadi adalah pernyataan Rusia yang paling eksplisit sejauh ini tentang persyaratan yang ingin diterapkan pada Ukraina untuk menghentikan apa yang disebutnya sebagai operasi militer khusus.
Hal itu disampaikan pada hari ke-12 invasi Rusia ke Ukraina, Senin 7 Maret 2022.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/presiden-rusia-vladimir-putin-memberi-isyarat-saat-dia-berbicara.jpg)