Healthy life : Mengenal Gejala PMS dan Kiat Atasi Sindrom Pra-Menstruasi
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala depresi. Namun sebelum itu, dr. Mafisah menjelaskan terlebih dahulu penjelasan terkait
Penulis: Faisal Ilham Muzaqi | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUN PONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK- Sindrom pramenstruasi atau yang biasa disebut PMS merupakan gejala yang sering dialami oleh para wanita sebelum memasuki masa menstruasi.
Konselor Medis Program Centra Remaja Khatulistiwa PKBI Daerah Kalbar, dr Mafisah menyampaikan, bahwa gejala yang dialami oleh wanita remaja seperti perubahan fisik, perubahan perilaku, dan perubahan emosi.
Hal tersebut, ia sampaikan saat Bincang Sehat di program Tribun Pontianak Official Podcast (Tripon Cast) dengan tema "Kiat Atasi Sindrom Pra-Menstruasi" pada Senin, 14 Februari 2022 yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube dan Facebook Tribun Pontianak.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala depresi. Namun sebelum itu, dr. Mafisah menjelaskan terlebih dahulu penjelasan terkait PMS.
• Healthy Life : Sehat dengan Terapi Pijat yang Tepat
Ia mengatakan sekitar 80 persen wanita remaja pasti mengalami yang namanya PMS, bahkan dialami semua wanita.
"PMS ini merupakan gejala yang dialami wanita sebelum menstruasi. Gejala ini bisa mengganggu fisik maupun psikologis, karena PMS ini bisa membuat kesakitan atau ketidaknyamanan," ujarnya.
Ia memaparkan, gejala PMS pra-menstruasi ini bisa berdampak terhadap fisik maupun non fisik pada seseorang. Bahkan kata dia, bisa merubah kondisi fisik.
Ia menyebut, untuk gejala yang dialami oleh wanita saat PMS ialah biasanya mengalami nyeri pada bagian payudara, sakit perut, tumbuh jerawat, berat badan bertambah dan perut seperti kembung.
Sedangkan untuk gejala Yen berdampak pada perilaku ialah meningkatnya nafsu makan, dsn memiliki keinginan tinggi, mudah marah, gairah seks meningkat, gelisah, dan represi.
Depresi ini kata dia sekitar 20 persen dialami oleh wanita saat PMS pra-menstruasi.
Menurutnya saat wanita mengalami PMS ini, tidak boleh panik dan tidak pula menganggap enteng, karena jika dipresentasekan kata dr. Mafisah, 50 persen ada wanita yang mengalami bergejala ringan, 30 persen bergejala sedang. Untuk gejala sedang ini akan mulai mengaganggu aktivitas seseorang.
Kemudian, 15 persen asimtomatik atau gejala berat 5-10 persen sehingga menganggu aktivitas.
Ia mengatakan, munculnya gejala PMS ini 10-14 sebelum menstruasi dan menghilang terjadi menstruasi.
"PMS ini muncul 10-14 hari sebelum menstruasi dan puncaki 3 hari sebelum menstruasi. Kemudian akan hilang ketika menstruasi, kalaupun tidak hilang sempurna secara total tapi sudah mengalami penurunan," ujarnya.
Menurutnya, gejala berat yang dialami seseorang itu akan bisa berkurang ketika berusia di atas 30 tahun , karena berhubungan dengan hormonal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/bincang-sehat-di-program-tribun-pontianak-official-podcast-sdf.jpg)