Perbedaan Varian Delta dengan Omicron dan Cara Mencegahnya

dr. Chelwy Joycestio pada Bincang Sehat dalam program Tribun Pontianak Official Podcast (Tripon Cast) bersama Host Rizki Fadriani pada Jumas 11 Februa

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/MUHAMMAD ROKIB
dr. Chelwy Joycestio pada Bincang Sehat dalam program Tribun Pontianak Official Podcast (Tripon Cast) bersama Host Rizki Fadriani pada Jumas 11 Februari 2022 kemarin dengan tema 'Lebih Ganas mana delta vs Omicron'. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sejak 2022 lalu Indonesia dilandasi pandemi Covid-19, bahkan seiring penularannya, virus Corona ini telah memunculkan berbagai varian-varian.

Termasuk di Kota Pontianak Kalimantan Barat yang juga menjadi wilayah dilanda pandemi mulai dari virus Corona hingga varian delta dan bahkan kini gejala terjadi adalah pasien yang terkonfirmasi positif covid-19 seperti gejala varian Omicron.

Jelas jika varian delta yang pernah terjadi di Kota Pontianak Kalimantan Barat pada puncaknya di Juni-Juli tersebut sangat tinggi bahkan di beberapa tempat isolasi seperti di rumah sakit dan rusunawa penuh. Akibat adanya varian keganasan dari virus varian delta itu sehingga terjadi berbagai pembatasan aktivitas masyarakat.

Daftar Nama Obat yang Boleh Digunakan Pasien Omicron hingga Fungsinya

Menteri Kesehatan Ungkap Ciri-ciri Omicron Agar Warga Lakukan Pencegahan

dr. Chelwy Joycestio pada Bincang Sehat dalam program Tribun Pontianak Official Podcast (Tripon Cast) bersama Host Rizki Fadriani pada Jumas 11 Februari 2022 kemarin dengan tema 'Lebih Ganas mana delta vs Omicron'.

Ia menyampaikan, bahwa memang varian delta ini merupakan virus yang variannya ganas dan cepat penularannya, bahkan bisa menyebabkan gejala keparahan dan kematian.

Adapun gejala khas varian delta ialah seperti gejala sesak nafas, pencernaan, hidung tersumbat, batuk hingga gejala berat seperti sesak nafas dan gagal nafas. 

Jika Tak Sengaja Bertemu dan Sentuhan Fisik Pasien Omicron, Apa yang Harus Dilakukan?

Begitu juga dengan varian Omicron, kata dokter Joy sapaan akrabnya. Untuk gejalanya hampir sama dengan varian delta. Hanya saja kata dia, untuk gejala varian Omicron ini lebih ringan daripada varian Delta.

"Hanya saja untuk varian Omicron ini untuk angka kematiannya lebih sedikit dari pada varian delta," ungkapnya.

Kendati demikian, ada keunggulan varian Omicron daripada varian Delta. Dimana, varian Omicron ini, penularannya lima kali lebih cepat daripada varian Delta, namun memang untuk Varian Omicron ini tidak sampai membuat gelombang seperti varian delta yang membuat tempat tidur di rumah sakit padat.

Hal tersebut terbukti yang terjadi di Kota Pontianak pada Juni-Juli 2021 lalu.

" Varian Omicron ini lebih ganas atau lebih cepat penularannya, tapi angka Hospitalisasinya lebih rendah dari Delta," ungkapnya.

Meskipun demikian, kata dokter Joy, setiap virus memang bermutasi, bahkan tidak hanya viru. Untuk bakteri saja juga mengalami mutasi. Demikian juga seperti manusia yang memiliki motasi.

Untuk motasi virus ini bisa terjadi bisa terjadi perubahan sifat pada sel-sel urutan-urutan terjadi jika pada sel-sel tersebut terjadi infeksi ke dalam sel sehingga berkembang biak di dalam sel. Maka terjadilah mutasi.

Mutasi virus ini, lanjutanya memang lebih cepat daripada yang lainnya terlebih virus Corona Varia Omicron ini.

Mutasi virus ini bisa terjadi dari virus ke virus dan bisa jadi karena ada kontak erat dari yang membawa virus ke yang belum terkena virus sehingga terjadi infeksi kepada orang lain.

"Jika yang terkena virus ini memang sudah memiliki komorbid seperti sesak nafas dan lainnya, maka bisa terjadi keparahan, bahkan bisa terjadi mematian karena infeksi ke organ-organ yang mengalami shutdown, karena infeksi kepada paru-paru dan pernafasan bahkan pada pengentalan darah," jelasnya.

Untuk itu, dokter Joy memberikan saran kepada semua masyarakat jika sudah mengalami gejala demam dan lainnya, alangkah baiknya bisa melakukan pemeriksaan ke dokter ataupun ke fasilitas kesehatan lainnya.

Bahkan bisa juga melakukan swab antigen maupun PCR.

Hal tersebut ia katakan sebagai bentuk mencegah sejak dini agar tidak terjadi keparahan.

"Kalau misalnya sudah positif, maka bisa isoman tapi harus dikenali gejalanya kalau gejala ringan mungkin bisa isolasi mandiri. Namu yang perlu kita ketahui bahwa kita harus konsultasi ke dokter jika terjadi keluhan-keluhan, karena belum tentu semua gejala itu bisa dikatakan covid-19," katanya.

Untuk mencegah hal tersebut kata dokter Joy menyampaikan, terdapat dua cara.

Diantaranya yaitu yang pertama dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumuman, mengurangi mobilitas mobilitas atau yang disingkat dengan 5M.

Kemudian cara yang kedua ialah dengan vaksinasi. Dirinya mengajak agar masyarakat ikut vaksin.

Pasalnya vaksinasi tersebut bisa membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok yang bisa mencegah keparahan jika terinfeksi virus covid-19. Sehingga dengan divaksin, maka dapat mengurangi keparahan saat terkena virus covid-19. (*)

(Simak berita terbaru dari Pontianak)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved