Gubernur Khawatir Jalur Tikus, Siagakan Mobile PCR Bantuan Kemendagri Perkuat Pelacakan di Aruk

Mobil ini memang khusus diperuntukkan di perbatasan Aruk dalam rangka antisipasi masuknya PMI yang positif

Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK/Adpim Pemprov Kalbar
Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji menyerahkan langsung bantuan Mobile Lab PCR kepada Pemkab Sambas yang diserahkan kepada Wakil Bupati Sambas di Halaman Kantor Gubernur Kalbar,Selasa 14 Desember 2021 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) mendapatkan bantuan Mobile Laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Mobile PCR ini bisa mendeteksi Covid-19 secara cepat hanya dalam satu jam.

Gubernur Kalbar, Sutarmidji menyerahkan langsung bantuan Mobile Lab PCR tersebut kepada Wakil Bupati Sambas, di halaman Kantor Gubernur Kalbar, Jl Ahmad Yani, Kota Pontianak, Selasa (14/12). Bantuan ini akan ditempatkan di perbatasan Aruk, Kabupaten Sambas.

Sutarmidji, sapaan akrab Gubernur Kalbar, mengatakan penempatan dilakukan supaya Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang melalui perbatasan Aruk bisa langsung melakukan tes PCR. Hasilnya, bisa diketahui dengan cepat.

“Kalau dibawa ke Pontianak biasanya pagi sampai malam baru tahu hasilnya, jadi lama. Nanti dengan alat ini kita bisa cepat. Kalau kita di sini masih delapan jam. Nah, dengan alat ini (Mobile Lab PCR) 1 jam sudah tahu hasilnya,” ujarnya.

Gubernur menyampaikan bantuan tersebut akan disimpan di Kabupaten Sambas, khususnya di Aruk. Sedangkan di perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau, sudah ada alat yang sama. Ia menjelaskan, Mobile Lab PCR tersebut memiliki empat alat untuk tes PCR. Satu alat bisa memeriksa delapan sampel dengan waktu 1,5 jam.

“Jadi kalau empat alat digunakan sekaligus ada 34 sampel yang bisa diperiksa dalam waktu satu jam setengah. Artinya, kalau satu hari bisa enam kali running, bisa 200-an sampel. Kalau bisa 8-10 kali, tapi kita maksimal enam kali sehari biar alatnya lebih hemat,” jelasnya.

Gubernur Sutarmidji Berikan Mobile Lap PCR untuk Ditempatkan di Pos Perbatasan Aruk

Sutarmidji juga menyarankan sampel swab di Kota Sambas juga bisa dibawa ke Aruk, jangan lagi ke Pontianak. “Saran saya di perbatasan Aruk ada satu alat itu saja yang dibawa,” katanya.

Ia mengatakan, Kalbar harus terus melakukan antisipasi penyebaran Covid-19. Selain itu, perlu dilakukan langkah untuk mewaspadai masuknya varian baru melalui perbatasan Kalbar, termasuk Aruk.

“Bagaimanapun orang masuk dari luar negeri harus ketat kalau tak mau kecolongan. Karantina saja harus ketat, dengan alat ini kita bisa cepat tahu hasilnya apakah PMI yang pulang positif atau negatif,” ungkapnya.

Namun, Sutarmidji juga sangat mengkhawatirkan ada yang masuk lewat pintu ilegal atau jalur tikus yang tidak terpantau. “Hal itu lah yang perlu diwaspadai kalau lewat pintu resmi kita sudah punya alat, harusnya pihak Malaysia memulangkan PMI karena pelanggaran ini-itu, harus sudah di PCR. Katanya sudah PCR, faktanya pernah dalam sehari kasus positif cukup banyak,” tegasnya.

Ia mengatakan, jika ditemui yang positif dengan CT 36-37 bisa saja sudah PCR namun terjangkit saat di perjalanan. Tetapi kalau CT 20-an dengan masa inkubasi dan perkembangannya sudah 7 hari, pasti tidak dilakukan PCR. Sebab lainnya, karena biaya tes PCR di sana juga mahal. Dengan alat ini juga sebagai langkah antisipasi jelang Nataru dalam menjaga pintu masuk di perbatasan.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kalbar Harisson mengatakan bahwa Mobile Lab PCR bantuan Kemendagri akan ditempatkan di perbatasan Aruk, Kabupaten Sambas. Mobile PCR tersebut akan dipergunakan untuk pemeriksaan sampal PMI yang pulang melalui Aruk. Bahkan juga bisa untuk pemeriksaan sampel warga di Kabupaten Sambas.

Ia mengatakan bahwa Mobile Lab PCR tersebut mempunyai ruangan khusus seperti ruangan pengambilan swab, pengolahan spesimen, dan running mesinnya, serta satu ruang genset.
“Jadi ada tiga kamar yang dilengkapi AC satu unit setengah PK. Jadi kalau petugas bekerja 6-7 jam bisa bekerja dengan nyaman dan petugas tidak akan merasa terlalu capai,” ujarnya.

Mobile PCR tersebut memiliki empat alat PCR, di mana satu alat bisa memeriksa delapan spesimen dengan waktu pemeriksaan 1,5 jam. Jadi kalau empat alat digunakan sekaligus ada 34 sampel yang bisa diperiksa dalam waktu 1,5 jam. “Artinya kalau satu hari bisa 6 kali running bisa 200-an sampel,” ucapnya.

Mobile PCR tersebut juga dilengkapi perizinan dari Kemenkes. Sehingga, siapapun yang memeriksakan dirinya di Mobile PCR tersebut akan keluar hasilnya baik melalui aplikasi Peduli Lindungi, maupun manual. “Mobil ini memang khusus diperuntukkan di perbatasan Aruk dalam rangka antisipasi masuknya PMI yang positif,” katanya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved