Breaking News:

Antisipasi DBD, Dinkes Sintang Gencar Lakukan Fogging

Darmadi menyebut, penyakit pasca banjir yang patut diantisipasi seperti ISPA, Diare hingga DBD. Meski saat ini belum banyak ditemukan kasus DBD, namun

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA/ANWAR
Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, gencar melakukan Fogging sebagai upaya antisipasi penyakit pasca banjir, seperti Demam Berdarah Dengoe (DBD). Penyemprotan insektisida untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti difokuskan di fasilitas umum dan pemukiman masyarakat. Tidak hanya di Kecamatan Sintang, tapi juga 12 kecamatan lain yang terdampak banjir. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, gencar melakukan Fogging sebagai upaya antisipasi penyakit pasca banjir, seperti Demam Berdarah Dengoe (DBD).

Penyemprotan insektisida untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti difokuskan di fasilitas umum dan pemukiman masyarakat. Tidak hanya di Kecamatan Sintang, tapi juga 12 kecamatan lain yang terdampak banjir.

"Fogging sebagai upaya antisipasi DBD pasca banjir," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Diskes Sintang, Darmadi, Selasa 30 November 2021.

Darmadi menyebut, penyakit pasca banjir yang patut diantisipasi seperti ISPA, Diare hingga DBD. Meski saat ini belum banyak ditemukan kasus DBD, namun antisipasi perlu dilakukan.

"Pasca banjir diare, ISPA ini kan akan naik, DBD pun demikian karena dampak banjir bisa menimbulkan penyakit oleh adanya air, ini sangat berpotensi terjadinya peningkatan kasus, makanya dilakukan antisipasi dengan melakukan fogging pada tempat pasca banjir. Tujuannya untuk antisipasi," ujar Darmadi.

Ada Warga Terjangkit DBD, Bhabinkamtibmas Polsek Seponti Fogging Rumah Warga Satu Dusun

Fasilitas umum menjadi perioritas utama yang dilakukan Fogging setelah itu pemukiman masyarakat terdampak banjir.

"Laporan kasus (DBD) belum tinggi, cuma kita kan tidak bisa dibiarkan. Kalau kasus ini dibiarkan nyamuk akan menularkan ke sekitarnya, jangkauan raidus terbangnya nyamuk kan 100 meter. Dengan radius itu ke kanan kiri depan belakang itu tentunya harus diblok supaya nyamuk tidak mebularkan kembali," jelasnya.

Meski sejumlah puskemas sudah memiliki alat Fogging, Darmadi merasa jumlahnya belum cukup.

"Perlatan fogging sudah memenuhi semua puskemss, tapi masiy kurnag. Kalau barang ini lebih banyak, sebenanrya lebih cepat dalam arti kalau bisa ya diblok semua lebih cepat, tapi kan kemampuan alatnya dan SDM kita harus dipertimbangkan. Masih kurang yang jelas karena kami membawahi semua puskemas," katanya. (*)

(Simak berita terbaru dari Sintang)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved