Profil Suyadi, Sosok Dibalik Si Unyil yang Dikenal Sebagai Pak Raden
Tanggal kelahiran Suyadi ini kemudian disepakati sebagai Hari Dongeng Nasional................
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Suyadi adalah sosok dibalik tokoh Si Unyil, yang lahir pada 28 November 1932.
Tanggal kelahiran Suyadi ini kemudian disepakati sebagai Hari Dongeng Nasional.
Penetapan itu ada sejak tahun 2015 ketika para seniman dan komunitas dongeng mendeklarasikannya di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 28 November 2015.
Pak Suyadi membuat film Si Unyil pada tahun 1981 bersama Pak Kurnain Suhardiman.
Film tersebut identik dengan boneka-boneka tiga dimensi yang dimainkan dengan tangan.
• Spoiler One Piece Episode 1001 ! Kapan Jadwal Rilis One Piece Eps 1001 ? Yuk, Nonton Anime One Piece
Pak Suyadi bertanggung jawab sebagai penata artistik dan pencipta boneka-boneka yang menjadi karakter dalam film Si Unyil tersebut.
Sementara itu, Pak Kurnain bertanggung jawab pada kreasi cerita.
Suyadi lebih dikenal sebagai Pak Raden.
Pak Raden adalah tokoh dari seri anak-anak Si Unyil yang ciri-cirinya memakai baju adat Jawa dan blangkon serta berkumis lebat.
Pak Raden biasanya muncul ketika Unyil dan teman-temannya melakukan kekeliruan dan Pak Raden datang untuk memarahi dan memberi petuah kepada mereka.
Pak Suyadi-lah pengisi suara Pak Raden.
Selain menjadi dubber, Pak Suyadi juga gemar mendongeng untuk anak-anak.
Si Unyil sendiri bercerita tentang kondisi sosial dan budaya masyarakat Indonesia.
Unsur-unsur di dalam serial itu tak bisa dipisahkan dengan budaya populer yang berkembang hingga sekarang, seperti kemunculan kata-kata "hom-pim-pah alaiyum gambreng" atau "cepek dulu dong".
• Outfit Jelang Natal 2021, 3 Rekomendasi Ini Bisa Digunakan untuk Hari Raya Natal
Karya Si Unyil sudah beberapa kali dibuat ulang untuk mencocokkan dengan perkembangan zaman.
Versi orisinilnya dari 1981 hingga 1993, lalu dari 2002 hingga 2003 awal, dan pertengahan 2003 hingga akhir 2003.
Selain karya fenomenal Si Unyil, Suyadi juga pernah didaulat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menjadi ilustrator buku pelajaran Bahasa Indonesia tingkat Sekolah Dasar.
Dikutip dari Harian Kompas, 16 Januari 2002, Suyadi merupakan anak dari seorang pamong praja atau patih di Kabupaten Surabaya.
Sebagai anak seorang "patih", ia mendapat bekal pendidikan yang baik dan berhasil menempuh pendidikan awal di ELS (Europese Lagere School).
Di ELS itulah Suyadi mulai suka menggambar, meski mendapat pertentangan dari ayahnya, Subekti Wirjokoesoemo.
"Opo kuwi. Sinau sek! (Pelajaran macam apa itu. Sekolah dulu!)" hardik ayahnya, seperti ditirukan Suyadi.
Pada waktu penjajahan Jepang, ia mengungsi ke Madiun karena rumahnya terbakar habis.
Setelah kembali lagi ke Surabaya, Suyadi melanjutkan pendidikannya ke Geneskundige Hoge School, sekolah persiapan ke perguruan tinggi.
Selepas dari GHS, ia pergi ke Bandung untuk menggapai cita-citanya di bidang seni rupa di ITB.
Pada 1950-an, saat menjadi mahasiswa ITB, Suyadi belajar mendalang kepada Pak Slamet, seorang guru dalang wayang kulit Jawa yang mukim di Bandung.
Bagi Suyadi, pengalaman belajarnya bersama Pak Slamet begitu membekas dalam perjalanan berkeseniannya.
Seiring populernya film Si Unyil, nama Suyadi pun mulai tenggelam dan digantikan oleh nama tokoh imajiner yang ia perankan, yaitu Pak Raden.
Namun, di balik kepopuleran Si Unyil, Suyadi mengakui bahwa banyak instansi dan departemen yang nimbrung dan ingin memanfaatkan popularitas film itu.
"Film kalau kelewat sarat beban dan pesan akan jadi tak menarik dan membosankan. Padahal anak-anak sebenarnya membutuhkan hiburan.
Ini yang sering dilupakan orang," kata Suyadi, dikutip dalam pemberitaan Harian Kompas, 22 Mei 1983.
Perasaan serupa juga dikeluhkan oleh Kurnain Suhardiman. Dalam Harian Kompas, 18 Februari 1990, Kurnian mengaku sering dibuat pusing dengan saratnya pesan dan misi titipan.
Menurut Suyadi, hal terberat dalam pembuatan filam Si Unyil adalah menjaga agar film tetap bertahan dan digemari oleh seluruh lapisan masyarakat.
Usaha keras mereka pun terbayarkan dengan catatan rekor yang dicapai film Si Unyil.
Film ini mencatat rekor sebagai serial terpanjang di TVRI, karena telah diproduksi lebih dari 500 seri.
Bahkan, Marselli dalam artikelnya "TVRI adalah Si Unyil" yang diterbitkan di Harian Kompas, 31 Maret 1985, menganggap bahwa pencapaian
Si Unyil sejajar dengan dengan perjalanan TVRI.
Tak hanya itu, boneka-boneka ciptaan Suyadi juga dijadikan UNICEF sebagai model pembuatan film anak dengan biaya murah tetapi layak di negara-negara dunia ketiga.
Sepeninggal Kurnain di tahun 1991, tongkat estafet film Si Unyil pun dilanjutkan oleh Suyadi.
Setelah Si Unyil tak lagi tayang, Pak Raden hanya menggantungkan hidupnya melalui mendongeng, menulis buku anak, dan melukis.
Dengan memakai pakaian khas karakter Pak Raden dalam film Si Unyil, lengkap dengan kumis tebalnya, Suyadi kerap diundang untuk mendongeng dalam berbagai acara anak.
Dikutip dari Harian Kompas, 20 Desember 2005, komitmen dan perhatiannya terhadap budaya Indonesia itu pun membuatnya meraih penghargaan Anugerah Kebudayaan 2005 sebagai penulis buku anak yang berdedikasi.
Akan tetapi, penghargaan itu tak lantas mengubah hidup Pak Raden yang serba pas-pasan dan jauh dari kata layak.
Pak Raden hanya tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di Jakarta.
Tak ada barang mewah di rumahnya, kecuali sebuah televisi 14 inci.
Hingga akhir hidupnya, Pak Raden hanya tinggal bersama kawannya, Nanang, dan kucing-kucing buangan para tetangganya.
Pada 2012, ia sempat melakukan protes keras terhadap pemerintah.
Pasalnya, setelah lebih dari 30 tahun menciptakan Unyil, hak cipta Unyil justru dipegang oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN).
Ia sama sekali tak mendapatkan royalti dari setiap penggunaan karakter dalam serial Si Unyil. Protes itu pun tak pernah dipenuhi hingga akhir hayatnya.
Pada 30 Oktober 2015, Drs Suyadi "Pak Raden" meninggal dunia dalam usia 82 tahun akibat infeksi pada paru kanan.
Biodata Suyadi
Nama : Suyadi/ Raden Soejadi
Nama lain : Pak Raden
Lahir : Puger, Jember, Jawa Timur, 28 November 1932
Wafat : Jakarta, 30 Oktober 2015
Sumber: Kompas.com, Gramedia