Breaking News:

Sekjen FKMS Ade M Iswadi Saran Ini untuk Pemerintah Atasi Banjir di Sintang

"Di Kapuas Hulu 91% masih bertutupan hutan, di Melawi 69% masih bertutupan hutan, dan Ketungau 60% masih bertutupan hutan. Jika dilihat dari data Kapu

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/AGUS PUJIANTO
Rumah pasangan lansia di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, roboh setelah lebih dari sebulan terendam banjir. 

"Soal adanya perkebunan sawit dan PETI. Dengan kondisi yang ada, keduanya bukan faktor utama sebenarnya tapi bisa kita katakan turut memperparah kondisi saja. Sebagai contoh lahan sawit yang terlalu luas merusak chatchmen area (daerah tangkapan air), sedangkan PETI bisa menyebabkan terjadinya pendangkalan sungai akibat banyaknya sedimen dan lumpur yang mengendap di dasar sungai dan tentunya juga akan menyebabkan berkurangnya daya tampung sungai," jelas Ami.

Ami menegaskan, jika menilik kembali pada kejadian banjir besar tahun 1963, dan hanya sawit dan Pertambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) dikatakan penyebab utama saat itu kebun sawit dan PETI belum ada. Menurutnya, perkebunan sawit dan PETI tetap ada andil dalam kerusakan DAS Kapuas dan Sub DAS.

Rumah Lansia di Sintang Roboh Akibat Banjir, Kakek Bujang Sempat Menolak Dievakuasi

Perkebunan sawit dan PETI berperan mempercepat proses terjadinya banjir jika hujan ekstrim terjadi dalam waktu yang lama. Dimana perkebunan sawit akan mempengaruhi kurangnya daya serap tanah terhadap limpahan air hujan, sedangkan PETI menyebabkan berkurangnya daya tampung sungai.

"Jadi kalau boleh menyampaikan saran pendapat, ada baiknya perkebunan sawit dikurangi atau ada semacam solusi bagaimana agar DTA tetap ada di tengah perkebunan dan CSR juga bisa digunakan untuk kajian solusinya," harap Ami.

Terkait aktivitas PETI baik di darat maupun di sungai, Ami menilai perlu untuk diperhatikan secara komprehensif karena menyangkut banyak pertimbangan. Namun perlu segera diatasi sesuai dengan regulasi yang dikeluarkan pemerintah sebagai rujukannya dengan diawali dialog multipihak untuk mencari kesepahaman bersama.

"Solusi lain untuk peninggian jalan seperti yang baru dimulai sebelum banjir terjadi itu juga baik namun tidak semuanya dapat dilakukan," jelasnya.

Ami melihat, masyarakat cukup banyak yang sudah beradaptasi dengan kondisi banjir, namun jika yang terjadi seperti saat ini semuanya diluar dugaan.

"Oleh karena itu upaya mitigasi secara serius dan terencana perlu dilakukan agar resiko yang terjadi akan berkurang," jelasnya. (*)

(Simak berita terbaru dari Sintang)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved