2 Upacara Adat Jawa Timur dan Cara Pelaksanaannya
Khusus artikel ini akan membahas dua upacara adat yang berasal dari Jawa Timur, yaitu Upacara Adat Kebo-Keboan dan Upacara Adat Kasada Bromo.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Upacara adat merupakan salah satu bentuk keberagaman budaya Indonesia yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat dari suatu daerah.
Setiap daerah di Indonesia, memiliki upacara adat yang berbeda bentuk dan tujuan.
Namun, sama-sama telah dilakukan sejak jaman nenek moyang dan diturunkan ke generasi berikutnya.
Khusus artikel ini akan membahas dua upacara adat yang berasal dari Jawa Timur, yaitu Upacara Adat Kebo-Keboan dan Upacara Adat Kasada Bromo.
• Syarat Turis Masuk Bali ! Bandara I Gusti Ngurah Rai Dibuka, Cek Daftar Negara yang Boleh Masuk Bali
1. Upacara Adat Kebo-Keboan
Upacara Adat Kebo-Keboan, merupakan sebuah tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh masyarakat Suku Osing dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Kebo-keboan diambil dari kata dalam Bahasa Jawa yaitu 'Kebo', yang dalam Bahasa Indonesia artinya kerbau.
Seperti namanya, Upacara Adat Kebo-Keboan dilakukan oleh masyarakat dengan cara merias diri hingga menyerupai hewan kerbau.
Upacara ini berkaitan dengan pertanian, karena merupakan wujud syukur atas hasil panen yang baik dan melimpah.
Selain itu juga sebagai permintaan atau harapan supaya mendapatkan tanah yang subur, panen yang melimpah dan tidak terserang hama.
Sejarah Upacara Adat Kebo-Keboan
Upacara Adat Kebo-Keboan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.
Awal mula dilaksanakan upacara adat ini karena kisah tentang Buyut Karti, seseorang yang mendapatkan wangsit untuk menggelar upacara bersih desa.
Ini dilakukan untuk mencegah datangnya wabah yang sulit disembuhkan di Desa Alasmalang, Banyuwangi.
• Upacara Adat Basamsam Warga Desa Cipta Karya, Cegah Bala Penyakit di Lingkungan Warga
Lalu, Buyut Karti dan para petani melakukan ritual untuk berdandan menyerupai seekor kerbau yang sedang membajak sawah.
Upacara ini berkembang hingga saat ini, dan menjadi warisan tradisi yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Alasmalang setiap awal bulan Suro, sesuai penanggalan Jawa.
Masyarakat percaya bahwa hewan kerbau dan pertanian tidak bisa terpisahkan. Masing-masing memiliki hubungan.
Sebab, kerbau adalah hewan yang membantu pekerjaan petani ketika mengelola sawah.
Ritual yang Dilakukan
Beberapa warga masyarakat akan dirias seperti hewan kerbau, dengan tubuh dicat hitam, dan menggunakan tanduk dan telinga kerbau buatan sebagai pelengkapnya.
Setelah itu, mereka akan menari-nari di tengah sawah sambil mengelilingi penonton.
Penonton yang dikelilingi akan ditarik menuju kubangan sawah hingga berlumuran lumpur.
Ritual ini akan dilakukan hingga semua penonton yang berada di dekat penari terlumuri oleh lumpur dari sawah.
Nah, itulah penjelasan mengenai Upacara Adat Kebo-Keboan yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur.
• Mgr Agustinus Disambut Upacara Adat di Bandara Komodo Labuan Bajo
2. Upacara Adat Kasada Bromo.
Sesuai namanya, upacara adat ini dilakukan oleh masyarakat di sekitar wilayah Gunung Bromo.
Gunung Bromo merupakan salah satu gunung paling terkenal di Indonesia. Gunung berapi ini termasuk masih aktif dan berada di wilayah Jawa Timur.
Lalu, apa yang dimaksud dengan Upacara Adat Kasada Bromo? Yuk, simak penjelasan berikut untuk mengenalnya lebih lengkap!
Sejarah Upacara Adat Kasada Bromo
Upacara Adat Kasada Bromo atau disebut juga dengan Yadnya Kasada merupakan ritual adat yang digelar oleh orang-orang dari Suku Tengger, Jawa Timur.
Orang Tengger menggelar tradisi Kasada Bromo sejak masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-13 Masehi.
Sejarah terjadinya tradisi adat ini dimulai ketika putri Raja Brawijaya, yaitu Rara Anteng menikah dengan putra dari seorang Brahmana Kediri, Joko Seger.
Setelah menikah, keduanya tinggal di wilayah yang tak jauh dari Gunung Bromo.
Namun, setelah menikah dalam waktu lama, mereka tidak dikaruniai seorang anak. Akhirnya, mereka berdoa dan memohon untuk meminta buah hati.
Mereka berdoa kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan berjanji jika diberikan anak, salah satu anaknya akan dikorbankan.
Tak berselang lama dari doa tersebut, Rara Anteng hamil dan melahirkan. Jumlah anak-anak mereka yaitu 25 anak.
Setelah lahir, salah satu anak mereka yang bernama Raden Kusuma menghilang. Namun, mereka mendengar suara Raden Kusuma dari kawah Gunung Bromo.
Akhirnya Rara Anteng dan Joko Seger selalu memberikan korban berupa hasil bumi pada waktu-waktu tertentu agar dapat hidup aman sejahtera.
Mulai saat itu, keturunan Rara Anteng dan Joko Seger dan warga masyarakat Tengger selalu melaksanakan tradisi tersebut hingga saat ini.
Tujuan Upacara Adat Kasada Bromo
Upacara adat Kasada Bromo diadakan setiap satu tahun sekali setiap datangnya bulan purnama pada Bulan Kasada atau Kesepuluh menurut Kalender Jawa.
Inilah sebabnya upacara adat ini disebut dengan Upacara Kasada Bromo.
Menurut kalender orang-orang Tengger, upacara adat ini dilaksanakan setiap bulan ke-12.
Mereka akan berkumpul di hamparan pasir (segara wedhi) di kaki Gunung Bromo untuk berdoa dan memberikan sesaji.
Tujuan upacara adat ini adalah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, memohon agar hasil panen melimpah, dan menolak bala atau bahaya.
Ritual Upacara Adat Kasada Bromo
Setiap melaksanakan upacara adat ini warga Tengger akan berkumpul menyiapkan sesaji dan mulai melakukan ritual.
Baca Juga: Upacara Adat Aceh yang Masih Dilestarikan hingga Sekarang, dari Peusijuek hingga Uroe Tulak Bala
Bagi masyarakat Tengger, Gunung Bromo adalah gunung yang suci. Sebab, Gunung Bromo adalah bagian dari alam yang membantu kehidupan masyarakatnya.
Ketika berkumpul di kaki gunung, masyarakat Tengger akan melemparkan sesaji ke kawah gunung sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Tradisi ini dilaksanakan ketika bulan purnama dari tengah malam hingga dini hari.
Bahkan hingga saat ini para warga Tengger masih melakukan upacara adat Kasada Bromo sebagai wujud penghormatan dan rasa syukur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/upacara-adat-kebo-keboan-banyuwangi.jpg)