Banjir Parah di Kalbar Hanyutkan Rumah Warga, Putussibau dan Ambalau Lumpuh

Banjir di Kecamatan Ambalau terjadi di 8 desa. Jumlah warga yang terdampak 468 KK

Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
Bupati Kabupaten Kapuas Hulu Fransiskus Diaan, saat monitoring langsung kondisi banjir di wilayah Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu, Minggu 3 September 2021. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAPUAS HULU - Banjir parah melanda dua kabupaten di Kalbar, yaitu Kapuas Hulu dan Sintang. Akibat banjir, aktivitas di Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, serta di Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, menjadi lumpuh.

Di Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara, ketinggian air mencapai 1-4 meter pada Minggu 3 Oktober 2021 pukul 09.08 WIB. Pantauan Tribun, ruas jalan nasional, di Jalan Lintas Selatan Putussibau Selatan, sudah terendam banjir sehingga melumpuhkan aktivitas masyarakat. Kendaraan roda dua, empat dan seterusnya tidak bisa lewat.

Ratusan rumah warga sudah terendam banjir, di wilayah Putussibau Utara dan Putussibau Selatan. Tidak sedikit juga korban banjir sudah mengungsi ke rumah keluarga atau kerabat yang lebih tinggi.

“Hasil pantauan di lapangan, kondisi air banjir bertahan, tidak seperti kemarin dan malam hari,” ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kapuas Hulu, Gunawan, Minggu pagi.

Pada Sabtu 2 Oktober 2021 lalu BPBD Kapuas Hulu mencatat sejumlah kecamatan di Kapuas Hulu terendam, yaitu Kecamatan Bunut Hulu, Putussibau Utara, Kalis, Seberuang, Silat Hulu, Silat Hilir, Putussibau Selatan, dan Mentebah. Lalu pada Minggu 3 Oktober 2021 pagi, BPBD mencatat ada 10 dari 23 kecamatan terendam air.

Tinjau Kondisi Banjir, Bupati Fransiskus Diaan Harap Masyarakat Bersabar

"Namun kondisi debit air banjir saat ini mulai bertahan dan diharapkan segera berangsur surut, sehingga aktivitas masyarakat kembali normal seperti biasanya. Sekarang ini wilayah Putussibau Selatan dan Utara kondisi lumpuh total," ujarnya.

Dijelaskan Gunawan, banjir kembali terjadi di wilayah Kapuas Hulu karena curah hujan beberapa hari terakhir ini sangat tinggi. Kondisi ini membuat debit air Sungai Kapuas meluap dan merendam sejumlah permukiman warga dan ruas jalan.

Pihaknya mengimbau kepada seluruh masyarakat Kapuas Hulu agar lebih waspada. Selain itu, diimbau warga waspada terhadap potensi tanah longsor untuk menghindari hal-hal yang rawan bencana tersebut. "Masyarakat harus lebih waspada terkait banjir," ungkapnya.

Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan meninjau atau monitoring langsung kondisi banjir di wilayah Putussibau, Minggu. Bupati mengimbau kepada seluruh masyarakat Kapuas Hulu yang terdampak agar tetap bersabar dan siaga satu terhadap banjir susulan.

"Kami (pemda) selalu berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan koordinasi, mendata dan monitor daerah Kapuas Hulu yang terendam banjir," ujarnya.

Dijelaskan Fransiskus, intensitas hujan sangat tinggi beberapa hari terakhir ini menyebabkan naiknya permukaan air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mendalam, Sibau, dan Kapuas. "Akibat curah hujan tinggi, debit air Sungai Kapuas merendam permukiman warga dan ruas jalan, sehingga aktivitas masyarakat lumpuh total di wilayah Putussibau," ucapnya.

Bupati berharap, banjir segera surut, sehingga masyarakat bisa beraktivitas kembali normal seperti biasanya. "Saya akan terus monitor kondisi banjir di wilayah Putussibau atau Kapuas Hulu," ungkapnya.

Rumah Hanyut
Banjir parah juga melanda Kecamatan Ambalau dan Serawai, Kabupaten Sintang. Banjir disebut-sebut terparah sepanjang kurun waktu 30 tahun terakhir.

Banjir terparah pernah terjadi pada 1991 silam. BPBD Sintang mendata sebanyak 468 kepala keluarga (KK) di delapan desa di Ambalau, terdampak banjir luapan Sungai Melawi.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sintang Sugianto mengungkapkan, intensitas curah hujan tinggi mengakibatkan banjir di beberapa wilayah seperti di Kecamatan Serawai dan Ambalau.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved