Breaking News:

Pecah Dimulut! Buah Bumi Khatulistiwa Pasarkan Durian Kalimantan Dengan Kualitas Super dan Premium

"Saya hobby durian dari kelas dua SD. Kalau memahami dan mendalami sekitar 10 tahun. Awalnya hanya ekplorasi, haha hihi makan durian bawa pulang, namu

Penulis: Ridho Panji Pradana | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/RIDHO PANJI PRADANA
Edy Hartono, owner Buah Bumi Khatulistiwa saat menunjukan produk durian miliknya. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pecah dimulut! Begitulah kira-kita kata yang dapat menggambarkan rasa durian yang dipasarkan oleh Edy Hartono, owner Buah Bumi Khatulistiwa yang fokus terhadap pemasaran buah durian asal Kalbar.

Pria yang mengaku hobby makan durian sejak bangku sekolah dasar ini pun mempunyai cita-cita untuk mengenalkan dan mempopulerkan durian asal Kalbar hingga keluar negeri.

Tidak hanya sekedar cita-cita, Edy yang juga mengaku telah satu dasawarsa malang melintang di dunia durian berinovasi dengan menghadirkan buah durian pilihan dalam bentuk packaging.

Bentuk packaging itu diharapkan Edy dapat membuat durian Kalbar dan Kalimantan umumnya dapat dirasakan oleh masyarakat keluar daerah.

"Saya hobby durian dari kelas dua SD. Kalau memahami dan mendalami sekitar 10 tahun. Awalnya hanya ekplorasi, haha hihi makan durian bawa pulang, namun kita prihatin harga durian masyarakat murah, maka saya beli saya angkat dengan harga yang tinggi," ujarnya.

Edy mengatakan, durian yang dijualnya dengan jenis premium dan super dan mulai dari Rp.115 ribu tersebut didapatkan dari kebun masyarakat hutan Kalimantan.

Ia pun memastikan rasa durian yang dijualnya manis, legit, pahit, tidak berserat, creamy, umami, warna kuning, ketebalan diatas 1cm, dan bentuk buah, serta porsinya. Ideal.

Lelang Durian Virtual di Kabupaten Kayong Utara Diperkirakan Habiskan 6.500 Buah

Menurutnya, Kalbar mempunyai potensi untuk pengembangan durian, tinggal bagaimana agar perspektif ditengah masyarakat akan durian harus berubah.

"Saya pernah nanya ke masyarakat, kenapa tidak menanam durian namun malah menanam sawit. Masyarakat mengatakan jika dari kecil hingga dewasa belum ada orang kaya jualan durian karena saat panen di kebun hanya dihargai Rp.150 rupiah perbuah.

Sementara saat saya ke luar negeri, seperti Malaysia, perspektif masyarakatnya berbeda, masyarakat memilih menanam durian daripada sawit. Nanam saja 5-10 pohon di belakang rumah durian musang king, satu buahnya bisa berbuah 100 biji, dan satu bijinya Rp. 400 ribu, maka uangnya tinggal kalikan dan hitung saja," ceritanya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved