Warga Desa Rawak Hulu Keluhkan Dampak Air Sungai Sekadau yang Tercemar
Namun beberapa waktu terakhir, air sungai itu tercemar dan mengakibatkan sulitnya warga mendapatkan sumber air bersih. Untuk dikonsumsi, air biasanya
Penulis: Marpina Sindika Wulandari | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Sumber air tercemar, warga desa Rawak Hulu, Kecamatan Sekadau Hulu, Kabupaten Sekadau, Kalbar, Junaidi keluhkan tak ada lagi sumber air bersih yang dapat dikonsumsi, Kamis 5 Agustus 2021.
Warga dusun sungai Lintah itu menuturkan, selama ini warga desa memang hanya memanfaatkan air sungai Sekadau untuk aktivitas sehari-hari, baik itu untuk dikonsumsi, mandi, mencuci hingga mencari ikan.
Namun beberapa waktu terakhir, air sungai itu tercemar dan mengakibatkan sulitnya warga mendapatkan sumber air bersih. Untuk dikonsumsi, air biasanya akan disaring dan diendapkan beberapa waktu baru dapat dikonsumsi.
• Sungai di Sekadau Tercemar, Kapolsek Sekadau Hulu Pastikan Tak Ada Aktivitas Peti di Wilayahnya
Sulitnya air bersih juga diperparah karena layanan PDAM yang belum dapat menjangkau wilayah tersebut, serta musim kemarau yang mulai berlangsung.
Selain itu, masyarakat juga mulai mengalami sejumlah penyakit kulit akibat mandi dan mencuci menggunakan air sungai tersebut.
"sekarang ini masyarakat sudah banyak mengeluh karena sudah banyak merasakan gatal-gatal setelah mandi. Kondisi perut sudah mulai tidak bisa dikondisikan lagi karena faktor air, dan dikala musim kemarau beberapa tahun lalu, kita mudah mendapatkan air, namun sekarang tidak ada,"ungkapnya.
Junaidi mengatakan, kondisi tersebut mulai dirasakan sejak lebaran bulan Mei lalu. Hal itu disampaikan Junaidi akibat aktivitas Peti yang limbahnya kemudian mencemari sungai Sekadau.
"Memang kondisi air paska aksi demo sudah parah, aktivitas kerja peti dari sebelumnya memang sudah parah jadi sampai sekarang ditambah parah lagi tidak ada hujan jadi tidak bisa mengimbangi aktivitas peti. Pas lebaran kemarin itu terasa (sulit air bersih) sampai sekarang," jelasnya.
Ia pun menyayangkan tercemarnya air sungai Sekadau yang masih sangat dibutuhkan warga pesisir sungai. Meski begitu, Junaidi tidak menyalahkan pihak berwajib mengingat keruhnya air sungai Sekadau sebagai tanggung jawab bersama.
• Kabid Humas Donny Charles Sebut Polres Sekadau Tangani 7 LP PETI dan Tetapkan 15 Tersangka
Ditambah lagi dengan adanya aksi demonstrasi yang anarkis oleh para pekerja Peti di Kecamatan Nanga Mahap beberapa waktu lalu. Menurut Junaidi seharusnya warga yang terdampaklah yang meluapkan emosi bukan para pekerja Peti.
Ia juga berharap agar pihak terkait dapat mengambil tindakan nyata dalam mengatasi pencemaran air sungai Sekadau tanpa perlu adanya laporan dan keluhan dari masyarakat.
"Siapa si dibalik itu dan siapa si dalangnya kita tidak bisa berasumsi pelakunya. Yang jelas ada aktor intelektual dibelakang itu, ini sudah jelas karena apa sudah jelas barang itu salah kenapa tidak diperoses karena ini mencoreng dimata hukum khususnya di Kabupaten Sekadau ini," tandasnya. (*)
(Update Informasi Seputar Kabupaten Sekadau)