Sempat Ditolak, Perpustakaan Bahagia Giat Meliterasi Warga Mendawai
Melihat dari masyarakat di sana kurang literasinya, sehingga kami hadirkanlah perpustakaan bersama dengan Kelurahan Bansir Laut, dan para relawan
Penulis: Rizki Fadriani | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Literasi erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari dan berkaitan dengan tolok ukur kemajuan ilmu pengetahuan bangsa.
Istilah literasi merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa.
Berawal dari kegelisahan melihat rendahnya tingkat literasi masyarakat sekitarnya, Sinta Devianti bersama teman-teman membangun perpustakaan umum di pesisir Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia, pada Bebincang Spesial "Solusi 13", yang merupakan rangkaian kegiatan HUT ke-13 Tribun Pontianak yang didukung oleh PLN Kalbar, XL Axiata dan Epson, Rabu 28 Juli 2021.
"Melihat dari masyarakat di sana kurang literasinya, sehingga kami hadirkanlah perpustakaan bersama dengan Kelurahan Bansir Laut, warga dan para relawan," ungkap Sinta, sebagai Founder Perpustakaan Umum Bahagia Mendawai.
• Arab Saudi Izinkan Ibadah Umroh Dengan Syarat, Ketua AMPHURI Kalbar Masih Melihat Situasi
Ia mengungkapkan perpustakaan ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat, dan di samping itu untuk membantu perekonomian warga di sekitar.
Melihat masyarakat di Mendawai bekerja sebagai pengrajin caping, Perpustakaan Umum Bahagia Mendawai hadir memberikan berbagai inovasi, sehingga caping buatan warga tersebut memiliki harga jual.
"Kalau dulu caping digunakan hanya untuk bertani, dan setelah ada kami serta beberapa stakeholder yang bekerjasama, hadirlah souvenir caping atau caping yang bisa di pajang di dinding dari berbagai ukuran," jelas perempuan berkerudung coklat tersebut.
Selain caping, masyarakat juga kini membuat pupuk organik cair dari bahan-bahan dapur yang sudah tidak dipergunakan, inovasi ini bersumber dari buku bacaan di perpustakaan tersebut, sehingga Perpustakaan Umum Bahagia Mendawai berperan penting dalam kemajuan masyarakatnya.
Sinta menjelaskan, jika dedikasi tersebut dikatakan sebagai inklusi sosial dari Perpustakaan Umum Bahagia Mendawai.
Namun sebelum ia dan teman-temannya sukses membangun perpustakaan, banyak penolakan dari masyarakat sekitar. Masyarakat menganggap apa yang ia dan teman-temannya kerjakan tidak bermanfaat.
Namun karena semangat membangun literasi yang tinggi, ia dan teman-temannya berhasil merubah mindset masyarakat yang menganggap remeh. Dan saat ini, Perpustakaan Umum Bahagia Mendawai memiliki dua gedung di Kampung Wisata Caping.
"Kami melakukan pendekatan ke masyarakat sekitar terlebih dahulu, menujukkan manfaat yang bisa di dapat oleh mereka jika membaca buku, seperti membuat pupuk organik cair tadi. Kita merekomendasikan buku kepada masyarakat untuk mereka belajar dan dan bermanfaat bagi mereka. Sehingga pelan-pelan, terlihat hasil dan dampaknya, mulailah masyarakat ikut serta," tuturnya menceritakan upaya pendekatan kepada masyarakat.
Ia dengan bahagia menceritakan jika saat ini respon masyarakat sangat antusias dan sangat peduli dengan literasi, serta mendukung penuh perpustakaan untuk terus maju.
"Penghargaan yang sudah kami dapat ialah Juara 1 Perpustakaan Tingkat Kota, Juara 2 Perpustakaan Tingkat Provinsi 2020 dan di 2021 ini kembali meraih Juara 1 untuk Perpustakaan Tingkat Kota dan saat ini masih dalam tahap perlombaan untuk tingkat provinsi, dan harapan kami tahun ini bisa mewakili Kalbar untuk ke tingkat provinsi," ungkapnya kepada Tribun.
Namun pandemi yang mewabah saat ini tak pandang bulu, dan tentunya memberikan dampak pada Perpustakaan Umum Bahagia Mendawai. Melihat hal ini ia dan teman-temannya kembali berinovasi untuk mencari solusi, dan tak menjadikan Pandemi sebagai penghalang, untuk masyarakat tetap dapat membaca buku namun aman dari Covid-19.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/728-fadri-1.jpg)