Maman Ungkap Sejumlah Nama Jagoan Golkar di Pilgub, Ini Kata Pengamat Politik Kalbar
Maman Abdurrahman sebagai Ketua Golkar Kalimantan Barat sesungguhnya sedang menunjukkan bahwa Golkar adalah partai yang terbuka
Penulis: Chris Hamonangan Pery Pardede | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat Politik Kalbar, Ireng Maulana, MA menilai dengan Maman Abdurahman memunculkan sejumlah nama kader untuk Pilgub Kalbar menunjukan partai berlambang pohon beringin tersebut terbuka.
Berikut penuturannya.
Dengan melemparkan banyak nama yang potensial dapat menggunakan Partai Golkar untuk berkompetisi pada pilgub mendatang, Maman Abdurrahman sebagai Ketua Golkar Kalimantan Barat sesungguhnya sedang menunjukkan bahwa Golkar adalah partai yang terbuka.
Dan dapat melihat dengan jelas potensi dari kandidat lainnya yang berasal dari dalam organisasi walaupun Maman sendiri adalah figur yang di inginkan oleh banyak kader Golkar di daerah untuk maju sebagai calon Gubernur.
Dengan membuka diri atas kemungkinan kader internal lainnya, Golkar kalbar sebetulnya selangkah lebih maju dalam isu regenerasi kepemimpinan karena tetap menghargai potensi para kader.
• Maman Beberkan 5 Jagoan Golkar untuk Pilgub Kalbar, Martin Rantan Disebut Sebagai Kader Potensial
Ternyata Golkar Kalbar masih menyimpan banyak stok figur-figur yang layak maju sebagai kepala daerah dari kader sendiri.
Langkah ini baik sekali untuk tetap menjaga dinamika organisasi dan sikap saling mempercayai antara sesama kader partai. Bahwa semua orang masih dihargai dan akan mendapatkan peluang yang sama sebagai kader.
Yang memberikan nilai tambah, Golkar Kalbar konsisten bahwa bahtera partai tetap untuk kader internal partai.
Sikap ini baik bagi soliditas partai, dan menjadi contoh bagi semua kader golkar bahwa sumber daya partai dipriortaskan bagi kader sendiri.
Sikap yang tidak berubah semacam ini akan menguatkan psikologis semua lini pendukung partai. Pendukung senang dengan kepastian.
Dukungan dalam kompetisi tentu saja akan bulat sempurna bagi kader yang dipilih tersebut.
Sumberdaya manusia partai sulit berbelok dukungannya jika sudah membela kader partai sendiri.
Selain keuntungan internal semacam itu, sikap ini juga dapat memprovokasi terbentuknya koalisi ramping dan efektif karena kelompok politik lain sudah akan melihat posisi Golkar yang tidak akan berubah dalam mengusung kadernya, maka koalisi akan terbentuk dengan posisi tawar yang pasti.
Mungkin koalisi Golkar akan lebih lincah untuk finalisasi pencalonan daripada kelompok lain yang akan memilih membangun koalisi gemuk.
Terakhir, seharusnya Golkar Kalbar lebih mampu leading dalam mewarnai dinamika peralihan kepemimpinan di Kalbar seiring kebutuhan kepemimpinan masa depan dengan tantangan yang lebih kompleks.
Mungkin Golkar dapat maju dengan narasi kepemimpinan yang berorientasi masa depan dengan modal kader yang potensial sebagai bakal Gubernur Kalbar. (*)
(Simak berita terbaru dari Pontianak)