Breaking News:

Ramadan 2021

Malam Lailatul Qadar Sebagai Puncak Upaya Menguatkan Ilham Taqwa Dalam Mengalahkan Ilham Fujur

Keagungan malam itu karena Al-Qur’an yang turun mengandung ajaran tauhid, pandangan hidup, syari’at dan tatakrama yang dapat menyebarkan keselamatan d

Penulis: M Wawan Gunawan
Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Dosen IAIN Pontianak, Cucu Nurjamilah. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Malam lailatul qadar merupakan salah satu “Keistimewaan” Bulan Ramadan, yang dinilai Al-Quran “lebih baik dari seribu bulan”. Malam itu dipilih Allah sebagai saat yang tepat dimulai penurunan Al-Quran ke dalam hati Rasulullah saw., untuk disampaikanya kepada manusia.

Dalam pandangan Sayyid Quthb, dipilihnya nama “Lailatul Qadar” yang memilki makna “bernilai dan berkedudukan”, karena kedua makna itu bersesuaian dengan peristiwa alam yang besar, yakni peristiwa Al-Quran, wahyu dan risalah.

Peristiwa besar tersebut memiliki petunjuk yang jelas dalam menentukan dan mengatur kehidupan manusia. Oleh karena itu malam lailatul qadar dinilai lebih baik dari pada beribu-ribu bulan bagi kehidupan manusia.

Malam itu penuh barakah dan kebahagiaan, yakni malam yang membawa dampak dan perubahan sedemikian rupa, karena pada malam itu dipancarkanya cahaya Al-Qur’an ke seluruh jagad raya, disebarkanya kesejahteraan yang melimpah dari Rahmat Allah ke dalam hati nurani manusia.

Keagungan malam itu karena Al-Qur’an yang turun mengandung ajaran tauhid, pandangan hidup, syari’at dan tatakrama yang dapat menyebarkan keselamatan dan kesejahteraan di seluruh alam raya.

Pada malam itu diletakkan nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan norma-norma, serta ditetapkanya kadar ukuran yang lebih besar dari kadar perorangan, yaitu kadar Ummat, Negara dan Bangsa. Lebih dari itu pada malam itu juga ditetapkan kadar yang lebih agung, yakni kadar hakikat, peraturan, dan hati nurani.

Baca juga: Lebaran dan Mengelola Keuangan Dengan Bijak

Namun, dalam perjalannya banyak manusia yang lupa dengan kadar kemuliaan pada malam itu, hakikat peristiwanya dan keagungan perkaranya. Maka dari itu sejak manusia melupakan hal ini, mereka kehilangan karunia Allah yang paling membahagiakan dan kesejahteraan serta keselamatan yang hakiki yang diberikan oleh Islam, yaitu keselamatan hati nurani, kesejahteraan keluarga, dan kesejahteraan masyarakat.

Rasulullah Saw sangat menyayangi kaum mukminin, sehingga beliau memerintahkan agar tidak melupakan dan melalaikan peringatan ini. Nabi Saw memerintahkan untuk menghidupkan kenangan ini dalam jiwa, yaitu dengan berdzikir, tilawah memuliakan kalamNya, menjalankan shalat sunnah, dan memohon ampunan pada malam-malam itu setiap tahun di bulan ramadhan, mencari dan mengintainya pada “sepuluh malam terakhir”.

Sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, yang artinya: “Carilah Lailatil Qadar pada sepuluh malam terakhir Bulan Ramadhan”.
Nabi juga memotivasi umatnya dengan memberitahukan keutamaan ibadah pada malam hari di Bulan Ramadhan, seperti hadis yang diriwayatkan Bukhari Muslim, “Barangsiapa melakukan shalat sunnah pada malam hari di Bulan Ramadhan (termasuk pada malam lailatul Qadar) karena iman dan ikhlas, maka diampunilah dosanya yang telah lalu”.

Perintah Nabi Saw tersebut di atas, memiliki keterkaitan dengan adanya dua potensi yang telah Allah tetapkan dalam diri umat manusia, yakni ilham ketaqwaan dan ilham fujur/keburukan.
“Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaanNya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan nya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved