Breaking News:

Geram! Sudah Hilang Penciuman Masih Nongkrong di Warkop, Sinto : Gak Kasihan Keluarga

Setelah diwawancara oleh tim satgas, rupanya pemuda itu sudah merasakan gejala corona, mulai dari hilang penciuman, hingga indra pengecap.

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Agus Pujianto
Seorang tenaga kesehatan mengambil sampel usap pengunjung warung. Dari 41 orang yang diperiksa dengan rapid test antigen, satu di antaranya positif corona. Setelah diwawancara oleh tim satgas, rupanya pemuda itu sudah merasakan gejala corona, mulai dari hilang penciuman, hingga indra pengecap. Bukanya memeriksakan diri dan isolasi, pemuda itu justru keluyuran nongkrong di warung kopi. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Harysinto Linoh geram dengan sikap acuh seorang pemuda di Sintang. Sudah tau bergejala covid-19, tapi masih berkeliaran, bahkan nongkrong di warung kopi bersama teman-temannya.

Pemuda berusia 23 tahun itu terjaring razia penegakan prokes tim satgas penaganan Covid-19 di salah satu warung kopi di Jalan lintas Sintang-Sekadau, pada Sabtu, malam.

Dari 41 orang yang diperiksa dengan rapid test antigen, satu di antaranya positif corona.

Setelah diwawancara oleh tim satgas, rupanya pemuda itu sudah merasakan gejala corona, mulai dari hilang penciuman, hingga indra pengecap.

Baca juga: Sehari 3 Pasien Corona Meninggal di Sintang, Total 29 Kasus Kematian

Sontak pengakuan pemuda ini membuat tim satgas geram.

Bukanya pergi ke dokter untuk periksa, justru nongkrong di warung kopi.

"Satu orang positif antigen. Setelah diwawancara rupanya memang sudah hilang penciuman. Yang kayak gini nih, yang gak masuk diakal sehat. Sudah hilang penciuman dan tau bahwa itu gejala covid tetapi masih nongkrong bersama kawannya di warkop. Kok gak ada kesadarannya? Gak kasihan sama keluarga dan orang sekitar? Kapan bisa selesai covid kalau kayak gini," sesal Sinto.

Sinto menilai, ini merupakan contoh bukti ketidakpedulian seseorang terhadap kesehatan dan keselamatan orang lain.

"Ini adalah bukti dari ketidakpedulian seseorang. Dia sudah sakit tapi dia masih nongkrong di warung kopi, berapa banyak yang ditularkan oleh dia, kawannya semeja ada 4 orang. Nanti pulang ke rumah, ke rumah menularkan ke keluarganya," kata Sinto, Minggu 18 April 2021.

Satgas kata Sinto, tak kurang dalam memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, tidak hanya pencegahan, tapi juga gejala terpapar corona.

Seharusnya, bagi masyarakat yang merasa bergejala corona, seperti hilang penciuman, contohnga harus melapor ke dinkes, untuk diperiksa kemudian menjalani isolasi baik mandiri, maupun di ruang isolasi yang disiapkan oleh pemerintah.

Bukannya keluyuran, karena merasa dirinya baik-baik saja.

"Yang kayak gini nih, bikin kasus di sintang makin banyak. Bayangkan sudah sakit masih nongkrong di wakrop, sebelum ke warkop, dia ke mana, kita ndak tau," sesalnya.

Sinto menegaskan, pemeriksaan rapid antigen tidak dipungut biaya oleh pemerintah bagi orang yang memilki gejala.

"Kalau dia melapor, bergejala, pemeriksaan itu gratis, tidak dipungut biaya. Yang bayar itu, untuk keperluan perjalanan. Kalau yang bergejala tidak ditarik bayaran, kok," tegasnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved