Sukrianto: Kami Tetap Belajar Meski Ditengah Keterbatasan

Saat awal-awal buka kegiatan belajar mengajar (KBM) di Dusun Parit Rabu, kata Sukri mereka dulu sempat numpang dirumah warga

Penulis: Muhammad Luthfi | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Wawan
Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (Mis) Nur Maliki Dusun Parit Rabu, Desa Kuala Pangkalan Keramat, Kecamatan Teluk Keramat, Sukrianto saat menerima bantuan dari baju dan lemari buku dari BEM IAIS, HMI dan PMII Cabang Sambas, Minggu 11 April 2021. (One) 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (Mis) Nur Maliki Dusun Parit Rabu, Desa Kuala Pangkalan Keramat, Kecamatan Teluk Keramat, Sukrianto mengaku sangat bersyukur bisa dibantu oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Islam Sultan Muhammad Tsafiudin (IAIS) Sambas dan Polres Sambas yang sudah membangun lantai di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (Mis) Nur Maliki, Dusun Parit Rabu, Desa Kuala Pangkalan Keramat, Kecamatan Teluk Keramat.

Dia katakan, pada dasarnya sekolah tersebut adalah Cabang dari Mis Nur Maliki di Desa Trigadu, Kecamatan Galing yang sudah berdiri sejak 1969.

"Sekolah ini adalah cabang dari sekolah di Selangkin, Desa Trigadu, Kecamatan Galing. Dimana yayasan dari sekolah ini sudah berdiri sejak tabu 1969 dengan satu orang guru di Trigadu," ujarnya, Minggu 11 April 2021.

Namun karena jarak yang di tempuh begitu jauh dan niat masyarakat untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya sangat tinggi. Maka dibukalah cabang di Dusun Parit Rabu, Desa Kuala Pangkalan Keramat.

Baca juga: Kades Asmuie Sampaikan Terimakasih Kepada BEM IAIS dan Polres Sambas

"Baru kemudian dibuka cabang sekolah di Parit Rabu," ungkapnya.

Saat awal-awal buka kegiatan belajar mengajar (KBM) di Dusun Parit Rabu, kata Sukri mereka dulu sempat numpang dirumah warga. Sebelum mereka mendapatkan hibah tanah dan juga dibangun swadaya sekolah tersebut oleh masyarakat setempat.

"Kalau sekolah cabang ini sudah lama, tapi kalau bangunannya ini baru, dan sebelum ada sekolah ini, kami numpang di rumah warga. Kondisinya lebih memprihatinkan lagi dari ini, karena kita numpang di rumah warga," tuturnya.

Barulah setelah empat tahun lalu mereka bisa ada bangun sendiri. Dan sekarang digunakan meski dengan banyak keterbatasan. Sementara itu, untuk ujian kelulusan kata dia, mereka masih harus ujian ke sekolah induk di Selangkin, Desa Trigadu, Kecamatan Galing.

"Kami tetap melaksanakan belajar mengajar dengan baik walaupun ditengah keterbatasan, karena memang semangat murid-murid kami lebih besar dari kami. Mereka kadang datang lebih dulu dari kami, meski hujan," tuturnya.

Mereka pihak sekolah kata Sukri, dalam hal pembelajaran dan lainnya sama sekali tidak membedakan. Semuanya diajar dengan baik, dan diberikan kesempatan yang sama dalam menimba prestasi baik didalam maupun diluar sekolah.

"Tidak ada pembedaan dengan sekolah induk dan cabang ini. Kami sama ratakan, baik itu dalam masalah prestasi dan perlombaan juga kami ikut sertakan," tutupnya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved