Breaking News:

Hasil Riset, Akademisi Kalbar Prediksi Ikan Belida Akan Punah

"Ternyata saat ini terbukti bahwa ikan ini terancam punah, dan kami dari akademisi tidak kaget," ujar Dosen Perikanan dan Ilmu Kelautan ini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
Akademisi Kalimantan Barat sekaligus Wakil Ketua Kadin Kalbar Bidang Industri Perikanan dan Kelautan, Eka Indah Raharjo S.Pi, M.Si. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kementerian Kelautan dan Perikanan mengeluarkan Peraturan Menteri nomor 1 tahun 2021 tentang jenis ikan di Indonesia yang dilindungi.

Ikan Belida Borneo, Arwana Kalimantan dan Balashark secara resmi telah masuk dalam daftar ikan yang dilindungi tersebut.

Ikan Belida dan Balashark masuk bersama 19 ikan lain asal Indonesia dalam status Perlindungan Penuh lantaran populasinya di alam liar sudah terancam punah.

Khusus Ikan Belida, Akademisi Kalimantan Barat sekaligus Wakil Ketua Kadin Kalbar Bidang Industri Perikanan dan Kelautan, Eka Indah Raharjo S.Pi, M.Si menyampaikan bahwa ikan Belida merupakan satu diantara ikan konsumsi favorit di Kalimantan Barat.

Baca juga: Ikan Belida Borneo dan Bala Shark Sebagai Satwa Dilindungi, Antam Imbau Stop Konsumsi dan Jual Beli

Namun, sejak 2015 lalu, dari riset yang dilakukannya di Kabupaten Kapuas Hulu, ia memprediksi bahwa ikan endemik Kalimantan ini akan terancam punah beberapa tahun kemudian setelah riset.

Kemudian, sejak 2020 hingga saat ini, iapun sedang melakukan riset di wilayah perairan Sanggau Kapuas terkait family Belida yang masyarakat lokal menyebutkan dengan Ikan Katori atau Tori, dimana saat ini ikan tersebut sudah sangat sulit untuk ditemukan.

"Ternyata saat ini terbukti bahwa ikan ini terancam punah, dan kami dari akademisi tidak kaget,"ujar Dosen Perikanan dan Ilmu Kelautan Salah Satu Perguruan Tinggi di Pontianak itu.

Dari hasil riset, terdapat faktor yang menyebabkan saat ini Ikan jenis tersebut sangat sulit ditemukan, pertama penangkapan secara masif tak terkendali.

Kedua, hingga saat ini belum ditemukan cara terkait proses pengembangbiakan buatan ikan Belida.

"Sampai sekarang belum ada yang berhasil memijahkan ikan Belida, karena memang itu ikan alam, sangat sulit untuk mendapatkan ikan induk, dan kalaupun dapat langsung di konsumsi, lalu Sangat gencarnya eksploitasi, dikunsumsi, jadi tangkapan terus, bila dilaut itu overfishing, sementara restocking tidak ada,"jelasnya.

Terkait Permen KKP nomor 1 tahun 2021 tersebut iapun menyambut baik, namun diharapnya Permen tersebut dapat segera disosialisasikan secara masif di seluruh masyarakat dan akademisi.

Khusus dimasyarakat yang banyak menggunakan ikan Ini sebagai pasokan utama makanan olahan, penggerak perekonomian, diharapnya Pemerintah dapat lebih gencar mensosialisasikan ke daerah tersebut, agar masyarakat dapat mencari alternatif pengganti.

Kendati ikan Belida dalam makanan olahan dikenal memiliki rasa yang lebih nikmat dibanding ikan lain, namun dikatakannya kandungan gizi dari ikan tersebut tak lebih baik dari ikan - ikan lainnya, oleh sebab itu diharapnya masyarakat dan pemerintah dapat segera mencari alternatif pengganti untuk makanan olahan ikan berbahan Belida.

Terhadap keberlangsungan Ikan Belida tersebut, ia berharap Pemerintah dapat segera melakukan kebijakan untuk pengembangbiakan ikan Belida serta ikan lain yang sudah masuk dalam daftar dilindungi.

"Pemerintah harus segera melakukan riset, menangkap ikan yang ada, Jadi yang ada kita biakan, di besarkan untuk memperbanyak populasi yang ada, dilakukan kawin secara buatan, dan hasilnya nanti dikembalikan ke alam,"pesannya. (*)

Penulis: Ferryanto
Editor: Try Juliansyah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved