Breaking News:

Pemkab Imbau Seluruh Masyarakat Waspadai Petensi Penyebaran Virus Nipah di Sanggau

Bupati Sanggau Paolus Hadi meminta kepada semua pihak untuk mewaspadai potensi ancaman virus nipah. Kepada para camat dan kepala desa, diminta untuk m

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Hendri
Bupati Sanggau, Paolus Hadi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Bupati Sanggau Paolus Hadi meminta kepada semua pihak untuk mewaspadai potensi ancaman virus nipah. Kepada para camat dan kepala desa, diminta untuk melakukan upaya pencegahan dan antisipasi penyebaran virus tersebut.

“Para Camat khususnya di wilayah perbatasan, Saya minta selalu berkoordinasi ke pihak Desa dan PLBN. Desa harus paham adanya penyakit ini agar apa yang Bupati sampaikan dapat ditindaklanjuti dan segera diawasi, Sampaikan terkait virus ini kepada masyarakat di perbatasan dan Kabupaten Sanggau,”katanya, Selasa 23 Februari 2021.

Ketua DPC PDI Perjuangan Sanggau itu juga menegaskan, Pemahaman terkait ciri-ciri dan  bagaimana penularannya hingga apa-apa yang harus dihindari untuk mencegah penularan virus tersebut harus tersampaikan dengan baik kepada masyarakat. 

Baca juga: Kurangi Angka Putus Sekolah di Perbatasan, Dikbud Sanggau Setujui Dirikan SMAN 1 Entikong

“Masyarakat harus tahu kalau ada penyakit ini, Peran kepala Desa sangat penting untuk mensosialisasi tentang surat bupati dan apa itu virus nipah. Ini penting agar masyarakat waspada dan patuhi surat bupati,”ujarnya.

Seperti diketahui, Bupati Sanggau Paolus Hadi mengeluarkan surat terkait imbauan pencegahan dan antisipasi penyebaran virus Nipah di Kabupaten Sanggau. Surat bernomor:524/448/Disbunnak.E tanggal 2 Februari 2021 itu ditujukan kepada para camat se-Kabupaten Sanggau. 

Melalui surat tersebut, para camat diminta untuk menginformasikan kepada seluruh masyarakat untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

Pertama, melarang pemasukan babi hidup atau daging babi mentah dari Malaysia. Kedua, melakukan pola hidup sehat dengan cara menjaga hygiene personal yang baik.

Ketiga, jus yang tidak dipasteurisasi tidak boleh diminum dan buah harus dicuci, dikupas atau dimasak sebelum dimakan. 

Keempat, melakukan sanitasi yang baik pada kandang babi. dan Kelima, melaporkan ke dinas terkait jika ditemukan babi yang menunjukkan gejala pernafasan dan syaraf. (*)

Penulis: Hendri Chornelius
Editor: Hamdan Darsani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved